AKHLAK PARA SAHABAT DALAM SEJARAH (ABU BAKAR AS-SHIDDIQ, UMAR BIN KHATHTHAB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THALIB)

AKHLAK PARA SAHABAT DALAM SEJARAH
(ABU BAKAR AS-SHIDDIQ, UMAR BIN KHATHTHAB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THALIB)
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Akhlak




Disusun oleh:
………..

Administrasi Publik II/ G
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
 Bandung 2017



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan hormat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Akhlak Para Sahabat dalam Sejarah.
            Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliahIlmu Akhlak. Dalam rangka penyelesaian makalah ini, tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada Bapak H. Wawan Setiawan Abdillah, S. Pd.I., M. Ag selaku pembimbing sekaligus dosen pengampu mata kuliah Ilmu Akhlak dan semua pihak terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
            Dalam penyusunan makalah ini banyak mengalami kesulitan yang disebabkan terbatasnya pengetahuan penulis miliki, sehingga penulis menyadari penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami butuhkan untuk kesempurnaan karya tulis ini.



Bandung, April  2017


Penulis



DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....................................................................................................      i
Daftar Isi..............................................................................................................     ii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................     6
1.1.  Latar Belakang..................................................................................     6
1.2.  Rumusan Masalah.............................................................................     7
1.3.  Tujuan...............................................................................................     7

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................     8
2.1. Akhlak Abu Bakar As-Siddiq...........................................................     8
2.2. Akhlak Umar bin Khattab...............................................................     20
2.3. Akhlak Usman bin Affan..................................................................   39
2.4. Akhlak Ali bin Abi Thalib.................................................................  43

BAB III PENUTUP...........................................................................................   46
3.1. Kesimpulan........................................................................................   46

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Sepeninggal Rasulullah Saw., yang menjalankan tugas-tugas kenegaraan dan keumatan adalah berada di tangan para sahabat. Mereka semua telah digembleng oleh Rasulullah Saw. pertama sekali di bawah Universitas Darul Arqam baik secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan. Hasilnya adalah melahirkan mereka semua sebagai manusia-manusia andalan seperti yang pernah kita baca dalam sejarah Islam.
            Mereka semua telah menunjukkan cara bagaimana bernegara, berakhlak, bermuamalah, dan berperang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh baginda Nabi Saw. Rasulullah Saw. telah memberikan mereka ilmu, meninggalkan kepada mereka akhlak mulia, mewariskan mereka Al-Qran dan Snnah sebagai jalan untuk tidak sesat dan salah arah dalam kehidupan. Baginda telah menunjukkan kpada umatnya jalan yang membawa mereka ke surga. Demikianlah jalan dan warisan yang telah beliau tinggalkan kepada kita sebelum beliau wafat. Setiap para sahabat it memiliki kelebihan dari segi akhlak dan cara mereka memerintah kaum muslimin.




1.2. Rumusan Masalah
     Agar pembahasan tidak meluas, maka diperlukan rumusan masalah:
a.       Bagaimana akhlak Abu Bakar As-Siddiq?
b.      Bagaimana akhlak Umar bin Khattab?
c.       Bagaimana akhlak Usman bin Affan?
d.      Bagaimana akhlak Ali bin Abi Thalib?
1.3 Tujuan
     Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
a.       Agar mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Abu Bakar As-Siddiq.
b.      Agar mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Umar bin Khattab.
c.       Agar mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Usman bin Affan.
d.      Agar mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Ali bin Abi Thalib.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Akhlak Abu Bakar As-Siddiq
            Beliau adalah seorang lelaki dewasa yang pertama sekali masuk Islam (menerima ajakan Muhammad SAW., untuk mengikuti agama tauhid). Beliau adalah seorang sahabat yang paling dekat dengan Nabi SAW., baik sebelum kenabian ataupun sesudah kenabiannya. Beliaulah yang bergelar as-siddiq (benar) karena dia selalu membenarkan apa yang dibawa atau disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dengan kata lain beliau tidak pernah membantah terhadap perintah Allah SWT., dan Rasul-Nya.
            Beliau seorang negarawan yang taat, adil dan pemberani dalam mengambil keputusan. Beliau dikenal dengan keimanannya yang tangguh, pendirian yang teguh, setia kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada Islam, dan pendapatnya selalu dapat dipercaya dan benar. Salah satu contoh adalah ketika beliau menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah SAW., banyak orang murtad dan tidak mau membayar zakat. Beliau mengisytiharkan perang terhadap orang murtad dan sebagaian sahabat yang lain tidak setuju untuk memerangi mereka. Namun dengan keteguhannya, komitmennya yang teguh dan setia kepada Islam dia memohon pertolongan Allah untuk memerangi orang-orang murtad. Akhirnya orang-orang murtad dapat dikalahkan dan Islam tegak dibawah kendali kepemimpinannya yang adil dan tegas.
            Abu Bakar dapat dijadikan suri teladan dalam kesederhanaannya, kerendahan hatinya, kewaspadaan, lemah lembut sikapnya walaupun beliau di masa kaya dan dimasa menjadi khalifah (berkedudukan tinggi). Beliau tetap saja sederhana dan tawadhu’ serta sangat adil dalam kepemimpinannya.
            Kesetiannya terhadap Rasulullah SAW., telah terbukti ketika suatu hari pada waktu zuhur (shalat zuhur) pada masa awal Islam dia dan Rasulullah SAW., masuk ke masjid dan berdakwah kepada kaum musyrik. Pada waktu itu kekuatan umat Islam hanya tiga puluh orang. Abu Bakar masuk ke masjid dan berpidato didepan khalayak kaum musyrikin Mekkah dan mengajak mereka kepada Islam. Ketika Abu Bakar berpidato memberitahukan keislamannya dan sambil mendakwahkan Islam, Rasulullah sedang duduk dihadapannya tidak beranjak. Namun kamu musyrikin lalu beranjak dan memukul Abu Bakar hingga ia tidak sadarkan diri.
            Tidak lama kemudian datanglah orang-orang dari Bani Tamim dan menyelamatkan Abu Bakar dari pengeroyokan orang-orang Quraisy. Kemudian Abu Bakar dibawa pulang ke rumahnya dan kemudian orang-orang Bani Tamim kembali ke masjid dan mengumumkan bahwa kalau saja Abu Bakar mati maka kami dari Bani Tamim akan membunuh Atabah bin Rabi’ah, orang musyrik Mekkah yang memukul dan menganiaya Abu Bakar.
            Tidak lama kemudian (setelah menjelang petang) Abu Bakar siuman kembali dan mulai dapat berbicara. Dan kalimatnya yang pertama dia ucapkan adalah “Bagaimana keadaan Rasulullah Saw?” Demikian cinta setiannya Abu Bakar terhadap Rasulullah SAW., padahal dia waktu itu baru siuman dan kondisinya masih mengenaskan akibat ulah kaum musyrikin memukulnya. Abu Bakar menyuruh orang tua nya Abu Quhafah dan Ummu al-Khair untuk pergi ke rumah Ummu Jamil al-Khattab menanyakan bagaimana kondisi Rasulullah. Namun setibanya dirumah Ummu Jamil, dia mengatakan bahwa keberadaan Muhammad sekarang di Dar al-Arqam dalam keadaan baik. Abu Bakar berkata: “aku tidak akan mencicipi makanan sebelum aku jumpa dengan Rasulullah SAW”. Walaupun beliau dalam kondisi sakit dan sengsara, tetapi persahabatan dan kesetiaan adalah sangat diutamakan. Abu Bakar merupakan tipe manusia mulia yang mencintai seseorang karena Allah dan dia membenci seseorang juga berdasarkan karena orang tersebut dibenci oleh Allah. Abu Bakar adalah contoh pemimpin setelah Rasulullah yang memiliki sifat jujur, setia, taat, adil dan manusiawi, tegas dan memiliki visi dan misi yang jelas terhadap Islam. Dia jauh dari sikap munafik, dia bukan pemimpin pemakan harta Negara, bukan pemimpin korup, bukan pemimpin yang suka berzina dan berfoya-foya, bukan pemimpin tangan besi, bukan pemimpin penipu rakyat, bukan pemimin yang suka membunuh rakyatnya, bukan pemimpin yang mengutamakan kepentingan keluarganya, dan dia bukan orang jahat. Dia pemimpin yang adil, lemah lembut, taat kepada Allah, menjalankan syariat Islam, menjalankan keadilan dan hukum Allah di seluruh negeri dibawah kekuasaan nya.
            Ketika Abu Bakar menemani Rasulullah untuk berhijrah ke Madinah pada 27 Safar tahun 14 dari nubuwwah dan harus bersembunyi di dalam Gua Tsur yang tinggi dan penuh bebatuan dan medan yang sangat susah ditakluki namun tidak menampakkan rasa kecewa dan lelah di wajah Abu Bakar karena beliau menemani kawan karibnya Muhammad SAW., demi sebuah cita-cita yaitu menyebarkan risalah tauhid kepada masyarakat.
            Ketika tiba di mulut Gua Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah engkau (Muhammad) masuk ke gua sebelum aku masuk terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang tidak beres di dalam gua, biarlah aku yang terkena, asal tidak mengenai engkau ya Muhammad”. Lalu Abu Bakar memasuki gua yang menyisihkan kotoran yang menghalangi. Di sebelahnya dia mendapatkan lubang. Dia merobek matelnya menjadi dua bagian dan mengikatkan ke lubang itu. Robekan yang satu lagi dibalutkan ke kakinya. Setelah itu Abu Bakar berkata kepada beliau, “Masuklah!” maka beliau masuklah ke dalam gua. Setelah mengambil tempat di dalam gua, Rasulullah SAW., merebahkan dirinya dalam pangkuan Abu Bakar dan kemudian beliau tertidur. Kemudian tiba-tiba Abu Bakar digigit oleh binatang berbisa didalam gua, namun dia tidak berani menggerak-gerakkan tubuhnya walaupun merasa sangat sakit. Ini semua dia lakukan agar tidak mengganggu Rasulullah yang sedang tidur nyenyak karena kecapaian. Tetapi Abu Bakar tetap menahan rasa sakitnya, sehingga akhirnya karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya dia meneteskan air matanya hingga jatuh ke wajah Rasulullah.
            Ketika itu Rasulullah terjaga dan bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang terjadi denganmu wahai Abu Bakar?” Tanya beliau.
            Abu Bakar menjawab, “Demi ayah dan ibuku menjadi jaminanmu aku digigit binatang berbisa”.
            Rasulullah SAW., meludahi bagian yang digigit sehingga rasa sakitnya hilang. Mereka berdua bersembunyi didalam gua tersebut selama tiga malam, yaitu malam jum’at, malam sabtu, dan malam ahad. Inilah model kesetiaan dan kecintaan Abu Bakar kepada seorang kawannya yang sejati yaitu Muhammad bin Abdullah (Muhammad SAW). Sebagai pesuruh Allah dalam menyebarkan risalah tauhid kepada manusia sejagat yang bermula di Jazirah Arab. Kecintaan dan kesetiaan Abu Bakar terhadap Rasulullah dan terhadap Islam serta kepatuhannya terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya patut dicontohi umat Islam. Dengan kepatuhan dan kecintaan nya serta kesetiaan ini Abu Bakar dijamin masuk surge oleh Rasulullah selagi dia masih hidup di dunia ini. Alangkah mulianya sifat Abu Bakar terhadap kawannya, Nabinya, Gurunya, menantunnya dan pemimpinnya yang agung itu. Inikah model kesetiaan Abu Bakar Siddiq.
            Abu Bakar juga memiliki Karamah seperti memiliki pengetahuan bahwa ia akan meninggal dan juga anaknya yang akan lahir perempuan. Dari Urwah bin Zubair r.a. dari Aisyah r.a. ia mengatakan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. mengadiahkan kepadanya bebrapa pohon kurma yang hasilnya sebanyak dua puluh wasaq dari hartanya yang ada di al-Ghabah (hutan). Menjelang kematiannya, dia berkata, “Demi Allah, hai putriku, tidak ada manusia yang kuinginkan menjadi kaya sepeninggalku selain engkau dan tidak ada orang yang kubuat susah bila menjadi miskin sepeninggalku selain engkau. Dahulu pernaha menghadiahkanmu beberapa pohon kurma yang hasilnya dua puluh wasaq. Jika kau dulu menebangnya, dia menjadi milikmu. Tapi hari ini ia akan menjadi harta warisan. Anak-anakku yang masih ada hanyalah dua orang saudara laki-lakimu dan dua orang saudara perempuanmu. Bagilah harta warisan itu menurut kitabullah”.
            Aisyah bertanya, “Wahai ayahku, seandainya harta itu sebanyak sekian dan sekian, niscaya aku ditinggalkan. Saudara perempuanku hanya Asma’, siapakah yang satu lagi?” Abu Bakar menjawab, “masih ada dalam perut ibunya. Kulihat dia seorang anak perempuan”.
            Setelah itu aku tahu bahwa hal itu benar terjadi. At-Taj as-Subki berkata dalam riwayat tersebut terdapat dua karamah Abu Bakar, yaitu:
Pertama: pemberitahuannya bahwa ia akan meninggal dunia karena sakitnya. Hal ini dapat diketahui dari perkataannya: “tapi hari ini ia akan menjadi harta warisan”.
Kedua: pemberitahuannya mengenai anak yang ada dalam kandungan istrinya dan akan lahir anak perempuan. Dan kemudian baru diketahui bahwa benar lahir anak perempuan tersebut.
            Kemudian karamah Abu Bakar setelah ia meninggal, yaitu “ketika jenazahnya dibawa ke pintu kubur Nabi SAW., dan diserukan: “Assalamualaikum, wahai Rasulullah. Ini Abu Bakar berda di pintu.” Tiba-tiba pintu-pintunya terbuka da nada yang berteriak: “pertemukanlah sang kekasih dengan sang kekasih”

a.       Kisah Kesederhanaan Abu Bakar As-Siddiq
            Abu Bakar As-Siddiq adalah seorang pengusaha sukses. Dan sebagai pengusaha muda ia sering melakukan perjalanan bisnis baik dalam maupun luar negeri di kawasan Timur Tengah dari situ ia mendapat banyak pengalaman di samping kekayaan. Sekembbalinya Abu Bakar dari salah satu perjalanan bisnisnya dari Yaman, ia mendengar bahwa Nabi Muhammad telah mendeklarasikan diri sebagai Nabi dan Rasul. Tidak lama kemudian, Abu Bakar menerima Islam dan menjadi orang pertama yang secara terbuka masuk Islam. Mengapa Abu Bakar begitu cepat percaya pada ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad dan melupakan agama yang dianut oleh dirinya dan nenk moyangnya?
            Namanya adalah Abdullah bin Usman Al-Taimy Al-Qurasyi. Abu Bakar adalah nama kuniyah, sedangkan As-Siddiq adalah gelar kehormatan yang diberikan Rasulullah karena ia selalu mempercayai dan membenarkan apapun yang dikatakan dan dilakukan Nabi ia lahir di Makkah pada tahun 574 Masehi, 50 tahun sebelum Hijrah, atau 2 tahun sebelum tahun Gajah. Dengan demikian, Abu Bakar lebih muda 2 tahun dari Rasulullah. Selain As-shiddiq, Abu Bakar juga mendapat beberapa gelar atau julukan kehormatan lain seperti Al-Atiq, Ashshohib, Al-AtQa, Al-Awwah, Tsanisnain fil Ghar, Khalifatu Rasulillah.
            Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyatakan bahwa Abu Bakar dikenal sejak zaman Jahiliyah karena keluasan ilmunya terutama ilmu nasab atau garis keturunan, kesuksesan bisnisnya dan luwesnya dalam bergaul. Setelah masuk Islam, ia bergaya hidup sederhana. Kekayaan yang melimpah ia gunakan untuk membantu kalangan para mualaf ia gunakan untuk membantu kalangan para mualaf yang miskin terutama memerdekakan umat islam yang masih berstatus sebagai budak di bawah tuannya yang kafir. Salah satu budak yang paling populer dalam sejarah Islam berhasil dimerdekakan oleh Abu Bakar adalah Bilal bin Robah Al-Habasyi. Bilal adalah seorang budak milik Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Mengetahui bilal sudah menjadi Muslim, Al-Jamhi menyiksanya. Abu Bakar lalu menebus Bilal dan memerdekakannya. Bilal kemudian dikenal dalam sejarah sebagai muadzin utama Nabi dan salah satu perawi hadits Rasulullah.
            Gaya hidupnya yang sederhana walaupun kaya membuatnya siap secara mental untuk menjadi miskin kalau memang itu diperlukan. Oleh karena itu, ia tidak ragu mewakafkan seluruh hartanya demi perjuangan Islam. Sikap ini diabadikan Allah dalam Q.S. Al-Lail ayat 6.
            Abu Bakar mendapat penghargaan khusus dari Allah yang menyebutnya dan mengabadikan namanya dalam Al-Quran. Setidaknya ada dua ayat dalam Al-Quran yang membicarakannya, dalam Q.S. At-Taubah:40, Allah berfirman “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrik Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”
            Ayat kedua menyebut Abu Bakar terdapat dalam Q.S. Al-Lail ayat 6 dimana Allah berfirman “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”
            Bagi Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang sahabat sejati. Seorang teman yang selalu siap untuk membantu kapanpun diperlukan. Teman yang selalu siap berada disisinya dalam keadaan suka dan duka. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda tentang Abu Bakar. “Sesungguhnya orang yang paling benar asanya dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Anai saja aku diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya.” Nabi masih ingat betul peristiwa sangat menegangkan saat mereka berdua dalam pelarian menyelamatkan diri dari dari kejaran kaum kafir Quraisy yang hendak membunuhnya. Dimana saat mereka berdua bersembungyi di gua Tsur kaum kafir sudah berada tepat di atas mereka yang sekiranya kaum musyri itu melihat ke bawah kakinya niscaya mereka akan melihat keduanya. Peruangan Abu Bakar membela agma Allah dan EasulNya telah membuat dia termasuk dari 10 orang yang dijamin masuk surga.
            Banyak pelajaran inspiratif dari sosok Abu Bakar bagi umat Islam secara keseluruhan antara lain, pertama, komitmen untuk melaksanakan tuntunan ajaran Islam harus total, tiak setengah-setengah. Hanya dengan cara ini, maka ajaran Islam dapat memiliki dampak signifikan pada perilaku seseorang. Baik perilaku pada Allah dan Rsul-Nya maupun pada sesama manusia. Sebagian besar dari ita hanya ber-Islam sebatas melaksanakan perintah wajib dan menjauhi yang haram saja itu pun dengan setengah hati.
            Kedua, pengorbanan waktu, tenaga dan materi demi memuliakan dan menegakkan ajaran Islam harus dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa motif duniawi dalam rangka untuk meningkatkan kadar keimanan dan keislaman kita di mata Allah.

b.      KEMULIAAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Rasulullah saw berkata, "Sesungguhnya orang yang paling banyak berbuat baik kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar as Siddiq." (HR. Bukhari-Muslim). Rasulullah adalah seseorang yang menanamkan kebaikan kepada setiap orang yang selamat dari api neraka, sebab hidayat dan keimanan yang diberikannya. Akan tetapi beliau mengakui bahwa Abu Bakar as siddiq adalah orang yang paling banyak berbuat baik kepadanya.
            Dengan demikian, jelaslah bagi kita akan kemuliaan yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq. Meskipun kebaikan Abu Bakar terhadap Rasulullah tidak dapat dibandingkan dengan kebaikan Rasulullah kepadanya. Akan tetapi ini merupakan
ungkapan rasa syukur Rasulullah atas apa yang dilakukan Abu Bakar kepadanya dan umat ini. Hal ini diperjelas dalam perkataannya yang lain, "Tidak ada tangan seseorang yang bersama kami kecuali kami telah mencukupinya, kecuali Abu Bakar. Sesungguhnya dia memiliki tangan yang telah dicukupi oleh Allah pada hari kiamat." (HR.Tirmidzi).

c.      SIFAT LUHUR ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Abu Bakar radhiyallahu ’anhu tumbuh dengan akhlak yang mulia, perilaku yang terpuji, dan pribadi yang luhur. Beliau adalah pedagang dan termasuk pembesar dan penasehat kaum Quraisy. Beliau juga dicintai oleh kaumnya dan akrab dengan mereka. Tidak terdapat berita yang mengabarkan bahwasanya beliau radhiyallahu ’anhu menyembah berhala dan meminum khamr pada masa jahiliyyah. Hal ini disebabkan karena baiknya fitrahnya dan bagusnya kualitas akalnya. Beliau terkenal dengan sifat tawadhu’, zuhud, dan meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ketika beliau dipuji, beliau berdo’a.
 “Ya Allah engkau lebih tahu tentang diriku daripada aku, dan aku lebih tahu tentang diriku daripada mereka, Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, ampunilah aku dari apa yang mereka tidak ketahui dan jangan siksa aku atas (pujian) yang mereka katakan.” (Al Ishabah : 335)
Abu Bakar radhiyallahu ’anhu adalah orang yang pertama masuk Islam dari kalangan lak-laki dewasa. Tidak ada yang menunjukkan sempurnanya keimanan Abu Bakar radhiyallahu ’anhu kecuali karena bersegeranya dalam membenarkan apa yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika peristiwa Isra Mi’raj. Dimana pada saat itu kaum Quraisy mendustakannya dan banyak dari kaum muslimin yang murtad tidak mempercayai berita tersebut. Akan tetapi Abu Bakar radhiyallahu ’anhu membenarkan peristiwa Isra Mi’raj.







2.2. Akhlak Umar bin Khattab
            Umar bin Khattab lahir di Mekkah sekitar tahun 586 atau 590 M yakni 40 tahun sebelum Hijrah. Ia lahir 13 tahun setelah kelahiran Nabi. Umar dikenal sebagai pribadi yang jujur dalam arti yang sebenarnya. Ketika ia masuk islam tidak ada hal lain yang memotivasinya untuk melakukan itu kecuali karena murni disebabkan oleh keyakinannya akan kebenaran islam. Kejujuran Umar ini pun mendapat pengakuan langsung dari Rasulullah sendiri. Dalam ebuah hadits riwayat Ahmad, Nabi bersabda: “Sesunggihnya Allah menjadikan kebenaran itu pada lisan dan hati Umar.”
            Umar bin Khattab adalah sahabat Rasulullah yang memiliki banyak kelebihan dan keunggulan baik dari segi kualitas pribadi, fisik, kecerdasan, kearifan, ketajaman insting dan keikhlasan serta loyalitas yang tinggi pada Islam. Umar  bukan tergolong kalangan yang paling awal mauk Islam. Ia baru menjadi seorang muslim setelah lima tahun Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Bahkan masa awal kerasulan Nabi Muhammad, Umar menjadi slah atu penentang Islam yang paling gigih dan ditakuti. Tapi begitu ia menjadi bagian dari umat Islam, ia langsung mengabdikan diri secara total paa Islam sehingga dalam waktu tidak lama Umar masuk di dalam lingkaran utama Sahabat Rasulullah di samping Abu Bakar, Utsman dan Ali bin Abu Thalib.
            Kejujuran membawa keikhlasan. Dan sikap ikhlas berdampak pada kuatnya keyakinan dan keimanan. Itulah yng terjadi pada Sahabat Umar. Keimanan dan keislamannya total, Kaffah dan tidak parsial. Dalam arti, segala perilaku Umar setelah masuk Islam betu-betul berdasarkan pada tuntunan syariah semata. Ia membuang segala pengruh masa lalu yang tidak sesuai dengan syariah semata. Ia membuang segala pengaruh masa lalu yang tidak sesuai dengan syariah islam bukan hanya dalam masalah Ibadah, tapi juga perilaku keeharian lainnya. Itulah yang membuat Umar istimewa di mata Nabi. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim Nabi memuji totalitas Umar dalam berislam. Nabi bersabda: “Pada saat aku tertidur aku melihat manusia berdatangan kepadaku dan mereka memakai baju pada aku melihat manusia berdatangan kepadaku dan mereka memakai baju pada badan mereka, di antara mereka ada yang bajunya sampai dada mereka, dan di antara mereka ada yang di bawah susu, lalu Umar datang dan dia memakai baju yang sangat panjang. Para Shahabat bertanya: “Apanya penafsiran mimpi tersebut wahai Rasulullah?” Nabi bersabda: Agama (pemahaman terhadap agama).”
            Keperkasaan fisik, keberanian, kecerdasan dan karifan biasanya tidak berkumpul bersamaan dalam diri seseorang. Akan tetapi Umar memiliki itu semua. Umar dikenal karena kekuatan fisik dankeberaniannya sehingga Nabi pun berdoa agar Islam dapat berjaya dengan adanya Umar. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, nabi berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua llak yang engkau sukai, yaitu Abu Jahl atau Umar bin Al-Khattab”. Ibnu Abbas menyatakan: “Orang yang pertama masuk Islam secara terang-terangan adalah Umar.”
            Kecerdasan dan kearifannya telah membuat sejumlah pendapat dan nasihatnya pada Nabi diikuti oleh Rasulullah dan bahkan dikonfirmasi oleh Al-Quran. Dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, Umar berkata, “Pendapatku sesuai dengan ayat-ayat Allah pada tiga perkara. Aku berkata, “Wahai Rasulullah seandainya kita menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, maka turunlah firman Allah: “Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat”. (QS. Al- Baqarah: 125). Dan ayat tentang hijab, aku berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau menyuruh kepada istri-istrimu untuk berhijab, sebab orang yang berbicara dengan mereka adalah orang yang baik dan buruk, lalu turunlah ayat tentang hijab (Al Ahzab :59) maka berkumpullah para istri Nabi Muhammad dan cemburu kepadanya maka aku berkata kepada mereka (dengan membacakan sebuah ayat): “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu…”. (QS. Al-Tahrim: 5).
            Begitu juga, pendapat Umar sesuai dengan ayat Allah di dalam sikap terhadap tawanan perang Badar, dan masalah meninggalkan shalat atas orang munafik dan banyak lagi pendapat-pendapat yang lain.
            Kualitas kepemimpinan, keilmuan dan keislaman Umar hanya berada di bawah Nabi. Dan itu diakui Nabi sendiri saat beliau bersabda: “Kalau ada Nabi setelah aku, maka itu adalah Umar.” Dan secara kebetulan, Michael H. Hart, seorang non-muslim keturunan Yahudi, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History pada 1979 menempatkan Umar dalam ranking ke-51 dari 100 tokoh paling berpengaruh dunia sepanjang sejarah. Sedangkan peringkat pertama adalah Nabi Muhammad.
            Umar bin Khattab adalah seorang sahabat Nabi SAW. Yang paling adil dan tegas ketika menjadi Amirul Mukminin. Dia disegani oleh kawannya dan ditakuti ole musuhnya., namun beliau menjalankan kehidupannya yang amat sederhana dan sangat adil kepemimpinannya. Dia sangat terkenal bukan hanya ketika masuk Islam akan tetapi jauh sebelum Islam sudah ternama di pasar Ukaz.
            Beranjak dari masa mudanya sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan teman-teman sebayanya. Dia lebih tinggi dan ebih besar perawakannya. Ketika Auf bin Melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya jauh melebihi yang lainnya sehingga ia sangat mencolok. Bila mana ia menanyakan siapa orangnya yang tinggi itu? Dia jawab, “Dialah Umar bin Khattab.”
            Wajahnya putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya cepat sekali. Ssejak mudanya ia sudah mahir dalam bidang olahraga: misalnya bergulat, menunggang kuda, dan menggunakan pedang. Ketika dia sudah masuk Islam ada seorang gembala ditanyai orang: kamu tahu bahwa si kidal itu sudah masuk Islam? Gembala itu menjawab: yang sering beradu gulat dipasar Ukaz? Setelah dijawab bahwa dia, gembala itu memekik: oh, mungkin ia akan membawa kebaikan buat mereka, atau mungkin juga bencana.
            Setelah menjadi khalifah Umar berdo’a dengan do’a nya yang pertama adalah: Ya, Allah, aku sungguh tegar, maka lunakanlah aku. Ya Allah, aku ini lemah, maka berilah aku kekuatan. Ya Allah, aku sungguh kikir, maka jadikanlah aku pemurah. Sejak masa mudanya Umar sudah memiliki watak keras dan kasar dan ini merupakan sifat ayahnya yang turun kepada Umar. Ini didukung oleh tubuhnya yang kekar dan kuat. Mengenai kebakhilannya dalam hal harta, ia memang tidak pernah kaya dan juga ayahnya, dan sepanjang hidupnya ia sangat sederhana. Dia seperti layaknya penduduk Mekkah yang lain yaitu suka berdagang, tetapi ia tidak pernah mendapat keuntungan yang banyak dari perdagangannya karena wataknya yang keras dan kasar makannya dalam berbisnis pasti tidak banyak orang suka. Dia banyak melakukan perdagangan ke Yaman dan Syam bukan hanya dimusim panas dan musim dingin saja bahkan sepanjang tahun dia berbisnis hingga ke Persia dan Romawi. Tetapi dalam perjalanan dia lebih mengutamakan pemikiran daripada perdagangan karena itu ia lebih mengutamakan pemikiran daripada perdagangan karena itu ia lebih banyak bertemu dengan orang-orang besar dan berdiskusi dan salah satu kesenagannya adalah bertukar pikiran dengan pemuka dan tokoh masyarakat karena ia ingin menggali ilmu dan gaya kepemimpinan. Makannya ketika beliau menjadi khalifah sesudah Abu Bakar As-siddiq, kepemimpinannya sangat adil dan tegas dan sangat ditakuti oleh musuh dan disegani oleh kawannya.
a.         Kisah Islamnya Umar bin Khattab
            Umar masuk Islam menurut berita yang sudah makruf diketahui sesudah empat puluh lima orang lelaki dan dua puluh orang perempuan. Artinya jika dihitung-hitung secara gemblang bahwa Umar merupakan orang yang ke enam puluh enam masuk Islam. Dengan kata lain Umar masuk Islam sesudh kaum muslimin hijrah ke Abisinia, dan jumlah orang yang hijrah pada waktu itu hampir mencapai Sembilan puluh orang lelaki dan perempuan. Demikianlah menurut sebuah pendapat yang umum diketahui. Sesudah mereka hijrah, Umar mendatangi Nabi dan para sahabtanya di Darul Arqam, di bukit Safa, dan jumlah kaum lelaki dan perempuan empat puluh orang. Dengan demikian juga bisa kita sebutkan bahwa sesudah Umar masuk Islam ada seratus tiga puluh orang sudah duluan masuk Islam.
            Berita yang terkenal sebab-sebab masuk Islamnya Umar adalah karena dia tidak tahan lagi seruan Muhammad dan dia anggap ini sebuah perbuatan memecah belahkan kaum Quraisy. Sehingga dia menyiksa orang-orang yang sudah masuk Islam. Nabi memberikan perintah bahwa siapa yang sudah siap maka berangkatlah untuk hijrah ke Abisinia, mereka pergi secara terpencar-pencar agar tidak mudah diketahui oleh kaum Quraisy. Setelah Umar melihat mereka pergi, ia merasa sangat terharu dan merasa kesepian berpisah dengan mereka. Menurut sumber dari Umm Abdullah binti Abi Hismah menyebutkan bahwa ketika kami berangkat dan datanglah Umar menghadang kami, dan pada waktu itu Umar masih dalam keadaan syirik. Umar telah Banyak menyiksa mereka sebelumnya, dan pada hari itu Umar bertanya, jadi juga berangkat wahai Umm Abdullah? Ya, kami akan ke luar dari bumi Allah ini, karena kalian selalu mengganggu kami, menyiksa kami, dan kalian memaksa kami dan kami tidak sanggup lagi menderita karena perbuatan kalian. Kemudian Umar berkata, semoga Allah memberi ke jalan ke luar kepada kalian dan Allah akan menyertai kalian. Saya lihat Umar begitu terharu melihat kami dan saya belum pernah melihat Umar sebelumnya, demikian pengakuan Umm Abdullah. Kemudian dia pergi, dan saya lihat dia sangat sedih atas kepergian kami. Setelah itu suamiku dating dan saya ceritakan percakapanku dengan Umar. Mungkin Umar akan masuk ke dalam Islam. Kata suaminya, “Umar tidak akan mungkin masuk Islam sebelum keledai Khattab masuk Islam lebih dulu”.
            Suatu pagi dengan pedang terhunus ditangannya ia hendak membunuh Muhammad. Namun dalam perjalanan ke Darul Arqam, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah dan menanyakan, “Umar mau kemana?” saya mau mencari Muhammad, dia telah memecah belahkan kaum Quraisy dengan menghancurkan agama nenek moyang kita. Dan saya aka membunuhnya. Nu’aim menjawab, “Anda menipu diri sendiri wahai Umar. Apakah anda kira Abdul Manaf akan membiarkan anda bebas berkeliaran kemana-mana setelah membunuh Muhammad?” Lebih baik anda pulang dulu ke rumah anda urus dulu keluarga anda, luruskan mereka lebih dahulu. Bereskan dulu adikmu Fatimah binti Khattab dan ipar dan sepupumu Sa’id bin Zaid. Mereka sudah menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus engkau hadapi pertama kali. Begitu mendengar ucapan Nu’aim bin Abdullah, Umar naik darah dan langsung kerumah adiknya Fatimah. Ketika itu disana ada Khabah bin Al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Al-Qur’an dan membacakan surat Thaha. Begitu mereka merasa ada Umar datang, maka Khabah brsembunyi di kamar mereka dan Fatimah menyembunyikan kitab itu.
            Setelah masuk kedalam rumah, Umar meminta adiknya mana lembaran yang dibaca tadi? Fatimah menjawab, “Tidak!” kata Umar lagi, “saya telah mendengar apa yang engkau baca tadi, dan apakah anda berdua telah menjadi pengikut Muhammad?” Ia kemudian menghantam Sa’id bin Zaid dengan keras dan Fatimah lari membantu suaminya dan ia tidak luput terkena hantaman Umar hingga wajahnya bercucuran darah. Melihat tindakan Umar yang begitu brutal, mereka menjawab, “Ya kami telah memeluk agama Islam, dan kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad”.
            Melihat darah yang keluar dari muka adiknya maka Umar merasa menyesal dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. “Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi”, katanya. “Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!” Fatimah berkata, “Kami khawatir anda akan menyia-nyiakannya”. “jangan takut”, kata Umar. Lalu ia bersumpah atas nama dewa-dewanya bahwa dia akan mengembalikannya jika ia sudah selesai membacanya. Kemudian Fatimah memberikan kitab tersebut dan Umar membacanya sebagian, dan selanjutnya dikembalikan kepada Fatimah. Lalu Umar berkata: “Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!” mendengar kata-kata Umar, Khabbah yang tadi bersembunyi langsung ke luar dan berkata kepada Umar: “Umar, Demi Allah, saya sangat mengharapkan agar Allah memberi kehormatan kepada anda dengan ajaran Rasul-Nya ini”. Kemarin saya mendengar Rasulullah berdo’a: “Ya Allah, perkuatlah Islam ini dengan Abu Hakam bin Hisyam dan Umar bin Khattab”. Karena itu berhati-hatilah wahai Umar. Kemudia Umar memanggil Khabbah, “antarkan saya dimana Muhammad?” Saya akan menemuinya dan masuk Islam. Khabbah menjawab, silahkan anda pergi kerumah Arqam bin Abi Arqam di bukit Safa, Muhammad dan para sahabatnya ada di situ. Kemudian Umar mengambil pedangnya dan langsung pergi ke tempat Muhammad.
            Umar tiba di tempat Rasulullah dan langsung mengetuk pintu. Rasulullah dan para sahabatnya berada di dalam rumah dan salah seorang sahabat mengintip dari dalam dan melihat Umar di luar bersama dengan pedangnya. Ia kembali ketakutan dan berkata: “Rasulullah, Umar bin Khattab datang dengan membawa pedang”. Tetapi Hamzah bin Abdul Muthalib menyela; “izinkan dia masuk, kalau kedatangan nya dengan tujuan yang baik, maka kita layani dengan baik, jika kedatangannya bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”. Ketika itu Rasulullah berkata: “izinkan dia masuk”. Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri dan langsung menemui Umar disalah satu ruangan, dan beliau menggenggam bajunya dan menarik kuat-kuat seraya berkata: “Ibn Khattab, apa maksudmu datang kemari?” Rupanya anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana kepada anda”.
            “Ya Rasulullah”, kata Umar. “kehadiran saya disini adalah untuk menyatakan keislamanku kepada Allah dan Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah”. Ketika itu Rasulullah bertakbir Allahu Akbar! Sehingga didengar oleh para sahabatnya yang sudah dipahami bahwa Umar telah mengucapkan dua kaliamh syahadat.
            Setelah Umar masuk Islam, dia mengumumkan keislamannya secar terang-terangan di depan kaum Quraisy. Setelah masuk Islam, besok paginya dia langsung kerumah Abu Jahal. Ia mengetuk pintu Abu Jahal. Ia membukakan pintu seraya berkata: Selamat datang, kemenakanku! Ada apa?”  saya menjawab, saya datang untuk memberitahukan kepada anda bahwa saya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad dan saya percaya akan apa yang di bawanya”. Ia membanting pintu didepanku, sambil berkata: “Sial kau! Dan engkau membawa berita celaka”.
          Setelah itu Umar pergi ke Ka’bah untuk memenui seseorang yang agar orang itu mengabarkan berita keislamanku. Lalu ia berjumpa dengan Jamil bin Ma’mar al-Jumahi. Pagi itu setelah berjumpa dengannya dia berkata, apa yang engkau tahu Jamil? Bahwa saya sudah masuk ke dalam Agma Islam. Ia tidak membantah dan tidak mengatakan apa-apa di depan Umar tetapi terus mengikutinya. Dan ketika Jamil sudah berada di depan Ka’bah, dia berteriak, hai kaum Quraisy, Umar sudah menyimpang dari agama leluhurnnya! Lalu Umar berkata dari belakangnya, bohong! Tetapi yang benar bahwa saya sudah masuk agama Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
            Suatu hari Umar bertanya kepada Rasulullah SAW., “Ya Rasulullah, bukankah hidup dan mati kita di tangan Allah, bukankah kalau kita mati dalam mempertahankan kebenaran?” Rasulullah menjawab, memang benar wahai Umar, memang hidup dan mati kita dalam kebenaran. “kalau begitu”, kata Umar lagi,”
Kebenaran. “kalau begitu,” kata Umar lagi, “mengapa kita sembunyi-sembunyi?” Demi yang mengutus anda, Demi kebenaran, kita harus ke luar!” Tak lama kemudian Rasulullah keluar dalam dua rombongan, yang satu dipimpin oleh Rasulullah yang di dalamnya ada Umar, dan yang satu lagi dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Keduanya lambing keperkuasaan Islam dan terus ke Ka’bah dan orang-orang musyrik/kafir Quraisy melihat mereka dengan wajah sendu dan tidak ada yang berani mendekat.

            Setelah Umar masuk Islam, maka situasi kota Mekkah agak berubah dan kaum Quraisy semakin terpojok dan kekuatan Islam bertambah kuat. Islam semakin cemerlang ketika Islam masuk ke dalam dada Umar bin Khattab. Islam disebarkan secara terang-terangan dan kaum Quraisy Mekkah akan berpikir dua kali jika berhadapan dengan Umar dan umat Islam yang lain, karena umat Islam semakin hari semakin bertambah. Satu demi satu pemuda, pedagang, orang kaya, dan pemuka kaum Quraisy masuk Islam dengan penuh kesadaran.

b.        Kelebihan Umar bin Khattab
            Ketika mesir ditaklukan oleh pasukan Islam di bawah panglima perang Amru bin ‘Ash, maka beberapa orang pembesar Mesir yaitu orang Kopti yang beragama Kristen menemui Amru bin ‘Ash. Mereka meminta izin untuk merayakan Hari pengantin sungai Nil yang jatuh pada hari sabtu bulan Ba’unah menurut kalender Kopti. Jika tanggal tersebut mereka sering melakukan perayaan karena dalam bulan-bulan Ba’unah, abib dan Masra (masing-masing bulan kesepuluh, sebelas dan dua belas dalam kalender Mesir Kuno) sungai Nil kering dan sedikit sekali mengalir airnya. Sehingga mereka mencari seorang gadis perawan yang cantik dan meminta restu orangtuanya, setelah dihias dengan begitu cantik dan kemudian dilemparkan kehanyutan ke dalam sungai Nil. Menurut Amr bin ‘Ash, dalam Islam tidak boleh melakukan hal itu karena itu khurafat dan takhayul atau syirik dan itu bisa dilakukan semasa jahiliyah. Namun demikian, orang-orang Kopti meminta agara Amru bin ‘Ash meminta izin Umar bin Khattab di Madinah.
            Lalu Umar menulis surat kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan menceritakan semua yang akan orang Kopti lakukan dan bagaimana keputusan Amru sendiri. Ketika suratnya diterima oleh Umar bin Khattab, maka beliau membalasnya dengan mengatakan: “sikap anda sudah benar wahai Amru, Islam menghapus perlakuan jahiliyah atau perbuatan sebelumnya. Lalu Umar menulis surat kepada Amru dan jika suratku sampai maka lembaran tersebut engkau lemparkan ke dalam sungai Nil. Isi surat Umar yaitu: “Dari hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, kepada sungai Nil, Mesir. Amma ba’du. Kalau selama ini engkau mengalir karena kehendakmu sendiri, maka janganlah mengalir lagi wahai sungai Nil. Tetapi jika Allah SWT., Yang Maha Tunggal, dan Maha Perkasa yang membuatmu mengalir, maka kami berdo’a kepada Allah SWT., agar membuatmu mengalir”. Kemudian isi surat itu dilemparkan oleh Amru ke dalam sungai Nil sehari sebelum Hari Raya Salib, maka air sungai Nil meluap hingga delapan belas depa dalam satu malam, dan penduduk Mesir selamat dari yang sial itu”. “Demikianlah surat Umar bin Khattab dengan izin Allah terkabulkan hendaknya. Setelah Umar bin Khattab melakukan itu dan hingga sekarang ini tidak ada lagi tradisi itu di Mesir. Dan hingga kini sungai Nil itu tidak pernah kering airnya dengan izin Allah Swt. Ini sebuah tindakan yang paling berani yang dilakukan Umar bin Khattab sehingga hingga hari ini masyarakat Mesir tidak lagi bergelimang dalam kesyirikan, takhayul dan khurafat. Inilah model ulama-umara yang diperlukan saat ini agar dapat menghapuskan para pelaku bid’ah, khufarat dan takhayul di seluruh pelosok negeri. Umat bukannya diberi pemahaman ke jalan yang benar, akan tetapi diperbodohkan oleh orang yang punya sedikit ilmu.
            Kemudian ada lagi karamah atau kelebihan Umar bin Khattab yang diberikan Allah kepadanya, yaitu: Pada suatu ketika munculnya api di beberapa wilayah di Madinah. Lalu Umar bin Khattab menulis surat pada satu sobekan kertas: “Hai api, padamlah kalian dengan izin Allah”. Lalu orang-orang melempar sobekan itu ke dalam api, maka padamlah api pada saat itu pula.
            Selanjutnya disebutkan oleh Imam Hurmain dalam kitabnya Asy-Syamil bahwa pada saat bumi dilanda gempa pada masa Umar menjadi Khalifah. Kemudian Umar bin Khattab memuji Allah dan penuh sanjung
N dan harapan kepada-Nya, sementara bumi sedang bergetar dan berguncang. Lantas dia memukul bumi dengan cambuk, seraya berkata: “Tenanglah kamu, bukankah aku telah berbuat adil kepadamu?” Saat itu bumi menjadi tenag seketika.
            Kemudian pada suatu saat ketika Umar bin Khattab sedang berkhuthbah pada hari jumat, tiba-tiba dia meninggalkan khuthbahnya dan berteriak, “Wahai Sariyah, berlindunglah ke gunung!” sebanyak dua kali.
            Sebagian para sahabat Rasulullah mengatakan: Umar sudah gila, dia meninggalkan khuthbah dan berteriak. Setelah itu Abdurrahman bin Auf datang menemuinya dan tersenyum kepadanya sambil berkata: “Wahai Amirul Mukminin, apa yang engkau perbuat sehingga engkau menjadi buah bibir orang-orang di dalam Masjid, karena pada saat engkau berkhuthbah tiba-tiba engkau berteriak “Wahai Sariyah, berlindunglah ke gunung!” Umar menjawab, “demi Allah, aku tidak bisa menahan diriku untuk melakukannya karena aku melihat Sariyah dan Pasukannya berperang di dekat sebuah gunung. Mereka diserang di bagian depan dan belakang. Hingga aku tidak bisa menahan diri untuk mengatakan: “Wahai Sariyah, berlindunglah ke gunung!” agar mereka bisa selamat dari gempuran musuh, dan carilah tempat perlindungan ke gunung”.
            Beberapa hari kemudian, seorang utusan Sariyah datang dengan membawa surat dari Sariyah yang barisi: “Suatu kaum menyerang kami pada hari Jum’at, lalu kami berperang dengan mereka sejak shalat subuh hingga menjelang Jum’at. Selanjutnya kami mendengar suara seorang penyeru: “Wahai Sariyah, berlindunglah ke gunung!” sebanyak dua kali. Akhirnya kami berlindung ke gunung itu, dan kami dapat mengalahkan mereka hingga Allah mengahncurkan mereka. Demikianlah para sahabat Rasulullah yang Allah berikan kelebihan di dinia ini selagi masih hidup di dunia ini. Makanya Rasulullah pernah bersabda yang artinya “Jangan kamu menghina sahabatku karena jika kamu bersedekah sebesar gunung Uhud pun tidak sebanding dengan satu genggaman tanah sedekah para sahabatku”. Walau sekecil debu pun sedekah Rasulullah lebih bernilai dihadapan Allah daripada sedekah kita bermiliar rupiah atau berjuta dolar yang tidak didasari dengan keikhlasan kita, demikian pula perjuangan para sahabat dalam menegakkan Islam, membela Nabi Muhammad Saw. dan mematuhi perintah Allah Swt. tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang kita perbuat dewasa ini.

c.         Umar bin Khattab Tentang Sedekah
            Pada suatu hari Umar bin Khattab r. a. pernah dikirim harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembantu dekatnya dan berkata, “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bi Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya dan lihatlah apa yang ia lakukan dengan harta tersebut”.
            Umar bin Khattab ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya itu. Ketika pembantu tersebut sampai di rumah Abu Ubaidah, dan berkata. “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, “silahkan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang engkau kehendaki”.”
            Kemudian Abu Ubaidah r.a. berkata, “Semoga Allah mengaruniakan keselamatanan kasih sayang-Nya kepada Amirul Mukminin. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah”.
            Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya, “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Abu Ubaidah mulai membagi-bagikannya kepada kaum fakir miskin, dan orang-orang yang memerlukannya dari kaum muslimin, sampai seluruh harta tersebut habis diinfakkan semuanya.
            Kemudian kembalilah pembantu tersebut dan menceritakan apa yang dilakuan oleh Abu Ubaiah kepada Umar bin Khattab. Lalu Umar pun menyuruh pembantunya untuk memberikan tambahan kepada Abu Ubaidah 400 dirham lagi.
            Setelah itu Umar berkata kepada pembantunya, “Berikan harta ini lagi kepada Mu’az bin Jabal dengan harta tersebut?” Maka berangkatlah pembantu tersebut ke rumah Mu’az bin Jabal r.a. dan berhenti sesaat untuk melihat apa yang dilakukan Mu’az terhadap harta tersebut.
            Ternyata Mu’az memanggil hamba sahaya, “Kemarilah, tolong aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Mu’az pun mulai membagi-bagikan harta tersebut kepaa fakir miskin dan epada mereka yang membutuhkannya dari kaum muslimin, hingga harta itu habis sama sekali dibagi-bagikan.
            Ketika itu, istri Mu’az bin Jabal melihat dari dalam rumahnya, lalu memanggilnya, “Demi Allah, aku juga miskin”. Mu’az pun mulai berkata, “Ambillah dua dirham saja”.
            Pembantu tersebut kembali lagi kepada Umar bin Khattab untuk kali ketiganya. Kemudian beliau memberinya lagi empat ratus dirham, dan berata,”pergilah ke tempat Sa’ad bin Abi Waqash”. Ternyata Sa’ad juga melakukan hal serupa seperti yang dilakuan oleh Mu’az dan Abu Ubaidah. Setelah itu pembantu tadi pulang dan menceritakan kepada Umar bin Khattab apa yang telah dilihat pada Sa’ad bin Abi Waqash.
            Kemudian Umar menangis dan berkata, “segala puji dan syukur bagi Allah”. Sesungguhnya mereka emua dalah saudara satu sama lain. Semuanya dididik oleh pendidik yang sama dan sumber lain yang sama. Mereka tidak pernah berubah sepeninggal Nabi Muhammd Saw. semikianlah akhlak dan ketaatan para sahabat Rasulullah baik dalam menjalankan amanah, dalam ketaatan terhadap Allah, Rasul serta kepada pemimpinnya (Amirul Mukminin), ataupun dalam menjaga amal ibadah mereka serta menjaga umat yang berada di bawah kepemimpinan mereka.


d.        Kisah Umar bin Khattab Mengumpulkan Zakat
            Pada suatu hari Rasulullah Saw. menugaskan Umar bin Khattab untuk mengumpulkan zakat pada kaum muslimin. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Ketika itu Rasulullah mengutus beliau dengan bersabda: “Pergilah, kumpulkanlah harta zakat”.
            Kemudian Umar mulai pergi mengelilingi daerah-daerah yang ada penduduk dan mengunjunguni kaum muslimin dengan sebuah perintah, “Bayarlah zakat kalian”. Harta zakat yang didapatkannya bukan untuk istana atau kantor-kantor melainkan untuk diberikan kepada fakir miskin serta kepada orang-orang yang memerlukannya.
            Ketika bertugas, Umar pergi dari pintu ke pintu dengan menyampaikan perintah, “Bayarlah zakat!”
            Semua orang yang didatangi, Umar ditanyai, “Siapa yang telah mengutus engkau?”
            “Yang mengutusku adalah Rasulullah Saw.” jawab Umar.
            Ketika mendengar nama Rasulullah disebutkan, dengan serta merta mereka langsung membayar zakat. Setelah Umar mendatangi seluruh kaum muslimin, hingga tibalah ia ke tempat Abbas, paman Rasulullah Saw., lalu Umar pun berkata kepadanya, “Bayarlah zakat”.
            Abbas bertanya, “Siapa yang telah mengutus engkau?”
            ”Rasulullah Saw.”, jawab Umar
            Abbas Berkata, “Aku tidak akan membayarnya”.
            Kemudian Umar pergi menuju Khalid bin Walid, seorang panglima perang, dan berkata kepadanya, “Bayarlah zakat”.
            Khalid bertanya, “Siapa yang telah mengutusmu?”
            “Rasulullah”, jawab Umar.
            Khalid berkata, “Aku tidak akan membayarnya”.
            Kemudian Umar pergi menuju Ibnu Jamil dan berkata kepadanya, “Bayarlah zakat”.
            Ibnu Jamil bertanya, “Siapakah yang mengutusmu?”
            “Rasulullah”, jawab Umar.
            Ibnu Jamil berkata, “Aku tidak akan membayarnya”.
            Kemudian pulanglah Umar dengan membawa harta zakat yang telah terkumpul. Dia berkata, seluruh kaum muslimin telah membayar zakat, kecuali tiga orang, yaitu Abbas, Khalid bin Walid dan Ibnu Jamil yang tidak mau membayar zakat.
            Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, tidakkah kau tahu bahwa Abbas adalah pamanku? Akulah yang membayar zakatnya untuk dua tahun. Zakatnya menjadi kewajibanku untuk membayarnya untuk dua tahun, sebab aku telah meminjam uang zakat darinya untu dua tahun.
            Rasulullah Saw. melanjutkan, “Ada pun Khali bin Walid, kalian telah berbuat zalim kepadanya. Dia telah mewakafkan seuruh perbekalan dan perlengkapan perang miiknya di jalan Allah”.
            Beliau berata lagi, “Semua telah tergadai dan menjadi wakaf di jalan Allah. Apakah dalam harta wakaf terdapat kewajiban membayar zakat? Wahai Umar, mengapa engkau meminta zakat darinya, padahal dia telah mewakafkannya”.
            Jika Khalid bin walid hendak pergi berperang, dia memanggil seratus orang pasuan berkuda dan memberi mereka seratus pedang, seratus tombak, serta seratus ekor kuda perang, semua itu dijadikan sebagai wakaq untuk Allah. Oleh karenanya anak-anaknya tidak dapat mewarisinya. Ketika Khalid wafat, dia tidak meninggalkan harta, kecuali baju yang dia pakai.
            Khalid telah mengikuti seratus kali peperangan, tidak ada sejengkal pun dari tubuhnya kecuali dipenuhi luka, baik luka akibat tusukan tombak, tebasan pedang, mau pun anak panah. Sentara Khalid telah mengorbankan ar mata, darah, dan waktunya untuk Islam, lantas apa yang kita tlah persembahkan untuk Islam?
            Tatkala Khalid meninggalkan medan perang (pensiun) dari bertempur pada usia senjanya, dia mengambil sebuah mushaf dan membacanya dimulai setlah shalat subuh hingga tiba waktu shalat dzuhur, sambil menangis, dia berkata. “Jihad telah menyibukkanku dari membaca Al-Qur’an”. Namun Khalid bin Walid walaupun tidak membaca Al-Qur’an tetapi dia telah menjalankan isi Al-Quran.
            Tatkala sakratul maut menjemput Khalid, dia berkata, “Aku telah mengarungi seratus peperangan, dan sekarang aku mati di atas kasurku, seperti matinya unta, maka mata para pngecut pun tidak dipejamkan. Hari ini para pengecut berbahagia dengan kematianku”.



2.3. Akhlak Usman bin Affan
            Usman bin Affan adalah Sahabat Nabi yang memiliki banyak julukan. Ia dijuluki Dzunnurain karena menjadi suami dari dua putri Nabi, Ruqayyah dan Ummi Kulsum. Ia dijuluki Dzulhijrotain karena pernah dua kali melakukan hijrah yaitu ke Habasyah (sekarang Ethiopia) dan Madinah. Ia juga salah satu Khalifah dari empat Khulafaurrasyidin. Usman lahir pada tahun 577 M atau tahun 47 sebelum hijrah. Ia berasal dari keturunan bangsawan klan Bani umayah yang merupakan bagian dari suku Quraisy.
            Di bawah kepemimpinan Khalifah Usman, imperium Islam meluas sampai Farsi (sekarang Iran) pada tahun 650 M, kawasan Khurasan (sekarang Afghanistan) pada tahun 651, dan penaklukan Armenia yang dimulai pada tahun 640-an.
            Usman masuk Islam pada usia sekitar 34 pada tahun 611 M. Pada saat itu ia baru saja kembali dari perjalanan bisnis ke Suriah. Usman mendengar kabar bahwa Nabi Muhammad baru saja kembali mendeklarasikan kerasulannya. Setelah berdiskusi dngan temannya Abu Bakar, Usman memutuskan untuk masuk Islam. Abu Bakar pun lalu membawanya menghadap Nabi untuk menyatakan keimanannya. Dengan demikian, maka ia menjadi salah satu muslim yang paling awal masuk Islam setelah Ali bin Abu Thalib, Zaid bn Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khadijah binti Khuwalid, dan lainnya. Keislamannya membuat marah klan Bani Umayah yang sangat menentang ajaran Islam yang dibawa Muhammad.
            Nabi Muhammad sudah menikahkan putrinya Rqoyah dengan Utbah bin Abu Lahab, sedangkan putri satunya, Umm Kulsum, dinikahkan dengan anak Abu Lahab yang lain bernama Utaibah bin Abu Lahab. Ketiha turun surah Al-Lahab dan istinya memerintahkan pada kedua putranya untuk menceaikan putri Nabi. Maka, kedua putri Nabi bercerai dengan kedua anak Abu Lahab. Menurut Rsyid Ridha (dalam Dzunnurain Usman bin Affan, hlm.12) perceraian keda putri Nabi dengan kedua anak Abu Lahab itu sebelum terjadinya hubngan intim. Ketika Usman mendengar beita perceraian Ruqoyah, a pun segera menghadap Rasulullah untuk melamarnya yang diterima oleh Nabi dengan senang hati.
            Bersama Ruqyah inilah Usman hijah ke Hanasyah (sekarang Ethiopia) antara tahun 614 sampai 615 Masehi bersama 11 laki-laki dan 11 perempuan muslim. Karena ia sudah memiliki kontak bisnis di Habasyah, masa setahun di negeri Raja Najasyi ni ia gunakan untuk menjadi pengusaha yang cukup sukses. Ia kembali ke Makkah. Di Makkah ia tinggal selamanya sekitar  tahun sebelum ia hijrahke Madinah pada tahun 622 Masehi bersama istrinya Ruqayah.
            Usman adalah seorang pengusaha kaya dan ia membawa seluruh hartanya ke Madinah. Di kota Madinah in, kaum Anshar umumya adalah petani. Sedangkan perdagangan didominasi oleh kaum Yahudi. Usman meneruskan insting bisnisnya menjadi seorang pengusaha jujur dan sukses di Madinah dan menjadi salah satu Sahabat terkaya.
            Walaupun kaya, Usman tetap bepola hidup sederhana. Dan kesederhanaan umumnya berbanding lurus dengan kedermawanan. Artinya, orang kaya yang sederhana umumnya tidak pelit pada sesama. Itu juga yang terjadi pada Usman. Sebagai contoh, ketika Ali bin Abi Thalib akan menikahi Fatimah putri Nabi, Usman membeli pakaian perang Ali seharga 500 dirham. 400 dirham digunakan Ali Untuk mas kawin, sedangkan yang 100 untuk biaya lain. Tidak lama kemudian, Usman mengembalikan baju perang Ali itu sebagai kado pernikahan.
            Ruqayah wafat pada tahun kedua hijrah atau 624 Masehi dalam usia 22 tahun. Setahun kemudian, pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga hijrah bertepatan dengan tahun 625 Masehi, Rasulullah menikahkan Usman dengan Ummi Kulsum, adik dari Ruqayah. Pernikahan ni adalah perintah langsung dari Allah. Nabi bersabda: Telah datang malaikat Jibril dan berkata “Allah memerintahkanmu agar menikahkan Usman dengan Ummi Kulsum.” Inilah yang membuat Usman mndapat julukan Dzunnurain atau pemilik dua cahaya. Hanya enam tahun 631 Masehi.
            Usman bin Affan adalah sosok sahabat yang patut menjadi teladan karena beberapa hal, pertama, ia adalah salah satu sahabat yang memiliki deajat istimewa dalam pandangan Allah dan Rasul-Nya. Terbukti ia menjadi menantu dari dua putri Nabi. Bahkan, pernikahan dengan putri kedua Nabi langsung atas perintah Allah. Pada waktu yang sama ia adalah deorang pengusaha sukses sehingga ia termasuk salah satu sahabat terkaya. Artinya, sorang pengusaha sukses dan hartawan tidak menjadi seorang mukmin yang berkualitas tinggi di dunia dan akhirat.
            Kedua, kaya atau miskin seseorang tidak ada hubungannya dengan kualitas ketakwaan. Orang kaya bisa lebih kuat imannya dari pada orang miskin atau sebaliknya, tergantung dari bagaimana seorang muslim menyikapi ujian harta yang berlimpah dan menghadapi musibah kemiskinan yang diserita.
            Ketiga, bahwa harta dunia yang berlimpah itu mulia di sisi Allah apabila melalui proses yang halal dalam mendapatkannya, tidak merubah gaya hidup seseorang menjadi hedonis dan konsumtif, dan sebagian harta itu digunakan untuk kemanfaatan dan kemaslahatan umat.

a.         Kisah Usman bin Affan Membeli Surga
            Cara masuk surga itu banyak, diantaranya adalah:
1.      Shalat dua rakaat dengan khusyu’ di tengah malam;
2.      Perkataan yang benar, menolong orang yang terzalimi dan mencegah orang berbuat zalim;
3.      Berpuasa pada hari yang sangat terik/ panas;
4.      Senyuman ikhlas kepada semua orang;
5.      Usapan telapak tangan yang penuh kasih sayang di kepada anak yatim.
            Usman bin Affan membeli surga dengan membeli mata air tawar dan memberikan kepada masyarakat untuk diminumnya dan ketika membiayai pasukan perang Jaisyu ‘Usrah pada perang Tabu. Inilah yang disebut membeli surga dengan perniagaan.






2.4. Akhlak Ali bin Abi Thalib
            Ali bin Abu Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad. Namun kedekatan keduanya jauh dari hanya sebatas hubungan kekerabatan. Sejak Ali lahir pada 17 Maret 600 Masehi yang bertepatan dengan tanggal 13 Rajab tahun 23sebelum hijrah, ia tinggal dalam rumah yang sama dengan rumah yang pernah ditempati Nabi selama 42 tahun. Yakni rumah Abu Thalib yang merupakan ayah angkat Rasulullah. Nabi Muhammad, yang lahir pada tahun 570 Masehi, sudah berusia 31 tahun pada saat Ali lahir ke dunia sehingga Ali tidak sempat tinggal serumah karena Nabi sudah hidup bersama istrinya, Khadijah Al-Kubro. Namun demikian, hubungan keduanya semakin dekat karena pada usia 5 atau 6 tahun nabi meminta Abu Thalib agar Ali diperkenankan untuk hidup bersamanya. Sejak saat itu, jadilah Ali anak asuh Nabi Muhammad. Penyebab Nabi mengambil alih pengasuhan Ali karena pada saat itu Makkah sedang ditimpa musim paceklik yang parah dan Abu Thalib mengalami kesulitan ekonomi. Dari situlah Nabi berinisiatip untuk menjadikan Ali sebagai anak asuhnya. Sedangkan putra Abu Thalib yang bernama Ja’far diasuh oleh pamannya yaitu Abbas bin Abdul Muttalib.
            Sejak hidup bersama Nabi dalam satu rumah, Ali selalu bersama Nabi kemanapun pergi. Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam disebutkan Ali sering mengikuti Nabi ke Gua Hira’ untuk beribadah dan shalat. Disebutkan juga bahwa Ali tidak pernah menyembah berhala selama hidupnya. Itulah sebabnya umat Islam selalu mendoakannya dengan “karromallohu wajhah”, semoga Allah memuliakan wajahnya, setiap kali namanya disebut. Menurut pendapat lain, doa tersebut disebabkan karena ia tidak pernah melihat aurat orang lain sama sekali.
            Dengan jiwa yang bersih tanpa ada noda syirik, iri dan dengki, maka mudah bagi Ali untuk menerima kebenaran Islam. Tak heran apabila Ali menjadi salah satu dari tiga tokoh yang pertama masuk Islam di samping Khadijah Al-Kubro dan Abu Bakar Ash-shiddiq serta menjadi satu-satunya anak remaja yang masuk Islam pertama kali saat Nabi mulai menyebarkan Islam pada kalangan kerabat dekatnya dari Bani Hasyim.
            Sejak keislamannya, Ali menjadi salah satu pengikut Nabi yang sejak awal rela mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya agama Islam dan keselamatan Rasul-Nya. Misalnya, pada hari dimana Nabi berniat hijrah ke Madinah, dan sejumlah pembesar Quraish bersekongkol untuk membunuh Nabi, Ali dengan tulus dan berani menggantikan Nabi di tempat tidurnya sementara Nabi menyelinap diam-diam keluar rumah bersama Abu Bakar menempuh perjalanan panjang ke kota Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah. Saat itu ali baru berusia 22 tahun. Tiga hari kemudian, Ali menyusul Nabi ikut hijrah ke Madinah.
            Pada bulan Shafar tahun kedua hijrah saat usianya yang ke-24, Ali menikah dengan Fatimah Az-Zahra putri Nabi. Ini adalah pernikahan pertama dan terakhir bagi Ali karena ia tidak pernah menikah dengan wanita lain selama hidupnya. Banyak Sahabat yang ingin menikahi Fatimah. Namun, Nami selalu menolak lamaran mereka. Dalam sebuah hadits riwayat Thabrani Nabi bersabda bahwa perjodohan Ali dan Fatimah adalah perintah Allah. Ali menikahi Fatimah dengan mahar sebuah naju perang yang sederhana. Seperti diketahui, Ali adalah sepupu Nabi. Dengan demikian, Ali menikah dengan keponakan sepupunya sendiri. Dalam Islam, menikah dengan kerabat yang ada hubungan sepupu ke atas tidak dilarang karena mereka tidak termasuk mahram (yang haram dinikah). Dari pernikahan ini keduanya memperoleh lima orang putra yaitu Hasan dan Husain pada tahun ketiga dan keempat hijrah secara berturut-turut dan dengan kelahiran Zainab, Ummu Kulsum dan Muhsin. Putra terakhir yang bernama Muhsin meninggal di masa kecil.
            Jasa-jasa Ali pada Islam tak terhitung jumlahnya. Beberapa yang paling fenomenal adalah menjabat sebagai Khalifah keempat Islam, berperan dalam proses pembukuan Al-Quran sejak zaman Nabi, utusan Nabi berkirim surat pada beberapa kabilah agar masuk Islam dan berhasil mengislamkan sejumlah Kabilah, mengikuti hampir seluruh peperangan (ghazwah) jihad melawan orang kafir kecuali perang Tabuk. Ali juga menjadi figur rujukan di kalangan ulama karena kedalaman ilmunya.
            Di tengah semua kelebihan dan keistimewaannya, Ali tetap mejaga hidup sederhana dan memilih hidup zuhud. Inilah salah satu sebab mengapa ia juga menjadi rujukan utama kalangan pengikut tasawuf.
a.       Kisah Ali bin Abi Thalib dengan Seorang Yahudi
            Demikian juga kisah Ali bin Abi Thalib dengan Seorang Yahudi yang sangat-sangat tidak pernah lagi ditemukan dalam kehidupan para pemimpin kita. Sebagai contoh adalah. “Ali bin Abi Thalib pada saat menjabat khalifah, dia mengadukan seorang Yahudi karena mengambil Baju Besinya. Ketika perkara ini dibawa ke pengadilan. Hakim Syuraih bertanya kepada Amirul Mukminin. Wahai Ali (Amirul Mukminin), apa saja tanda-tanda yang dapat menyatakan bahwa baju ini milikmu dan tolong hadirkan beberapa orang saksi untuk memperkuat pendapat anda bahwa baju besi ini adalah milikmu. Namun Ali tak sanggup membuktikannya semua itu sehingga hakim Syuraih memutuskan bahwa baju besi itu adalah milikmu wahai Yahudi.
            Kemudian Yahudi itu berkata kepada Hakim. Wahai tuan hakim, Anda telah memutuskan perkara dengan adil. Dan saya mengucapkan “Asyhadu Anla Ilaha Illallah, wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”. Inilah praktik keadilah yang pernah dipraktikkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib di masa pemerintahannya. Jika ada para pemimpin umat Islam yang dapat melakukan keadilan semacam ini, mungkin kedamaian dan ketenteraman akan terjadi dimana-mana, rezeki akan melimpah, keberkahan akan dirasakan oleh manusia, dan bala bencana akan dijauhkan oleh Allah Swt.
            Itulah keadilan Islam yang jika benar-benar dilaksanakan, maka berbagai kebaikan muncul dan berbagai kemenangan akan diperoleh. Oleh karena itu, berlaku jujur dan adillah Anda dalam setiap keputusan.


BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan
            Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana berakhlak yang mulia, beliau mengajarkan kepada para sahabatnya. Rasulullah dan sahabat yang diantaranya yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib dapat kita jadikan sebagai suri tauladan dalam setiap tindakan kita. Untuk menjadi muslim yang berakhlak mulia dapat mencontoh perilaku para sahabat Rasul yang memiliki akhlak mahmudah.mereka mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama, menjadi pemimpin yang baik, kesetiaan, kejujuran, ketegasan, dan banyak hal baik lainnya.











DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Muhammad. 2016. Akhlak: Menjadi Seorang Muslimah Berakhlak Mulia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Syuhud, Fatih. 2015. Meneladani Akhlak Rasul dan Para Sahabat. Malang: Pustaka

Al-Khoirot.Umary, Barmawi. 1989. Materi Akhlak. Solo: CV Ramdhani.

Comments

Popular Posts