AKHLAK PARA SAHABAT DALAM SEJARAH (ABU BAKAR AS-SHIDDIQ, UMAR BIN KHATHTHAB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THALIB)
AKHLAK
PARA SAHABAT DALAM SEJARAH
(ABU
BAKAR AS-SHIDDIQ, UMAR BIN KHATHTHAB, UTSMAN BIN AFFAN, ALI BIN ABI THALIB)
Diajukan untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah Ilmu Akhlak
Disusun oleh:
………..
Administrasi
Publik II/ G
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Bandung 2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan hormat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Akhlak
Para Sahabat dalam Sejarah.
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliahIlmu Akhlak. Dalam
rangka penyelesaian makalah ini, tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak,
untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada Bapak H. Wawan Setiawan Abdillah, S.
Pd.I., M. Ag selaku pembimbing sekaligus dosen pengampu mata kuliah Ilmu Akhlak
dan semua pihak terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Dalam
penyusunan makalah ini banyak mengalami kesulitan yang disebabkan terbatasnya
pengetahuan penulis miliki, sehingga penulis menyadari penyusunan makalah ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat kami butuhkan untuk kesempurnaan karya tulis ini.
Bandung, April 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 6
1.1. Latar
Belakang.................................................................................. 6
1.2. Rumusan
Masalah............................................................................. 7
1.3. Tujuan............................................................................................... 7
BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 8
2.1.
Akhlak Abu Bakar As-Siddiq........................................................... 8
2.2.
Akhlak Umar bin Khattab............................................................... 20
2.3.
Akhlak Usman bin Affan.................................................................. 39
2.4.
Akhlak Ali bin Abi Thalib................................................................. 43
BAB III PENUTUP........................................................................................... 46
3.1.
Kesimpulan........................................................................................ 46
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sepeninggal Rasulullah Saw., yang
menjalankan tugas-tugas kenegaraan dan keumatan adalah berada di tangan para
sahabat. Mereka semua telah digembleng oleh Rasulullah Saw. pertama sekali di
bawah Universitas Darul Arqam baik secara sembunyi-sembunyi atau secara
terang-terangan. Hasilnya adalah melahirkan mereka semua sebagai
manusia-manusia andalan seperti yang pernah kita baca dalam sejarah Islam.
Mereka semua telah menunjukkan cara
bagaimana bernegara, berakhlak, bermuamalah, dan berperang sesuai dengan apa
yang diajarkan oleh baginda Nabi Saw. Rasulullah Saw. telah memberikan mereka
ilmu, meninggalkan kepada mereka akhlak mulia, mewariskan mereka Al-Qran dan
Snnah sebagai jalan untuk tidak sesat dan salah arah dalam kehidupan. Baginda
telah menunjukkan kpada umatnya jalan yang membawa mereka ke surga. Demikianlah
jalan dan warisan yang telah beliau tinggalkan kepada kita sebelum beliau
wafat. Setiap para sahabat it memiliki kelebihan dari segi akhlak dan cara
mereka memerintah kaum muslimin.
1.2. Rumusan Masalah
Agar pembahasan tidak meluas, maka diperlukan rumusan masalah:
a. Bagaimana
akhlak Abu Bakar As-Siddiq?
b. Bagaimana
akhlak Umar bin Khattab?
c. Bagaimana
akhlak Usman bin Affan?
d. Bagaimana
akhlak Ali bin Abi Thalib?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
a. Agar
mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Abu Bakar As-Siddiq.
b. Agar
mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Umar bin Khattab.
c. Agar
mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Usman bin Affan.
d. Agar
mahasiswa dapat memahami dan menjadikan teladan akhlak Ali bin Abi Thalib.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Akhlak Abu Bakar As-Siddiq
Beliau
adalah seorang lelaki dewasa yang pertama sekali masuk Islam (menerima ajakan
Muhammad SAW., untuk mengikuti agama tauhid). Beliau adalah seorang sahabat
yang paling dekat dengan Nabi SAW., baik sebelum kenabian ataupun sesudah
kenabiannya. Beliaulah yang bergelar as-siddiq (benar) karena dia selalu
membenarkan apa yang dibawa atau disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dengan kata
lain beliau tidak pernah membantah terhadap perintah Allah SWT., dan Rasul-Nya.
Beliau
seorang negarawan yang taat, adil dan pemberani dalam mengambil keputusan.
Beliau dikenal dengan keimanannya yang tangguh, pendirian yang teguh, setia
kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada Islam, dan pendapatnya selalu dapat
dipercaya dan benar. Salah satu contoh adalah ketika beliau menjadi khalifah
sepeninggal Rasulullah SAW., banyak orang murtad dan tidak mau membayar zakat.
Beliau mengisytiharkan perang terhadap orang murtad dan sebagaian sahabat yang
lain tidak setuju untuk memerangi mereka. Namun dengan keteguhannya, komitmennya
yang teguh dan setia kepada Islam dia memohon pertolongan Allah untuk memerangi
orang-orang murtad. Akhirnya orang-orang murtad dapat dikalahkan dan Islam
tegak dibawah kendali kepemimpinannya yang adil dan tegas.
Abu
Bakar dapat dijadikan suri teladan dalam kesederhanaannya, kerendahan hatinya,
kewaspadaan, lemah lembut sikapnya walaupun beliau di masa kaya dan dimasa
menjadi khalifah (berkedudukan tinggi). Beliau tetap saja sederhana dan
tawadhu’ serta sangat adil dalam kepemimpinannya.
Kesetiannya
terhadap Rasulullah SAW., telah terbukti ketika suatu hari pada waktu zuhur
(shalat zuhur) pada masa awal Islam dia dan Rasulullah SAW., masuk ke masjid
dan berdakwah kepada kaum musyrik. Pada waktu itu kekuatan umat Islam hanya
tiga puluh orang. Abu Bakar masuk ke masjid dan berpidato didepan khalayak kaum
musyrikin Mekkah dan mengajak mereka kepada Islam. Ketika Abu Bakar berpidato
memberitahukan keislamannya dan sambil mendakwahkan Islam, Rasulullah sedang
duduk dihadapannya tidak beranjak. Namun kamu musyrikin lalu beranjak dan
memukul Abu Bakar hingga ia tidak sadarkan diri.
Tidak
lama kemudian datanglah orang-orang dari Bani Tamim dan menyelamatkan Abu Bakar
dari pengeroyokan orang-orang Quraisy. Kemudian Abu Bakar dibawa pulang ke
rumahnya dan kemudian orang-orang Bani Tamim kembali ke masjid dan mengumumkan
bahwa kalau saja Abu Bakar mati maka kami dari Bani Tamim akan membunuh Atabah
bin Rabi’ah, orang musyrik Mekkah yang memukul dan menganiaya Abu Bakar.
Tidak
lama kemudian (setelah menjelang petang) Abu Bakar siuman kembali dan mulai
dapat berbicara. Dan kalimatnya yang pertama dia ucapkan adalah “Bagaimana
keadaan Rasulullah Saw?” Demikian cinta setiannya Abu Bakar terhadap Rasulullah
SAW., padahal dia waktu itu baru siuman dan kondisinya masih mengenaskan akibat
ulah kaum musyrikin memukulnya. Abu Bakar menyuruh orang tua nya Abu Quhafah
dan Ummu al-Khair untuk pergi ke rumah Ummu Jamil al-Khattab menanyakan
bagaimana kondisi Rasulullah. Namun setibanya dirumah Ummu Jamil, dia
mengatakan bahwa keberadaan Muhammad sekarang di Dar al-Arqam dalam keadaan
baik. Abu Bakar berkata: “aku tidak akan mencicipi makanan sebelum aku jumpa
dengan Rasulullah SAW”. Walaupun beliau dalam kondisi sakit dan sengsara,
tetapi persahabatan dan kesetiaan adalah sangat diutamakan. Abu Bakar merupakan
tipe manusia mulia yang mencintai seseorang karena Allah dan dia membenci
seseorang juga berdasarkan karena orang tersebut dibenci oleh Allah. Abu Bakar
adalah contoh pemimpin setelah Rasulullah yang memiliki sifat jujur, setia,
taat, adil dan manusiawi, tegas dan memiliki visi dan misi yang jelas terhadap
Islam. Dia jauh dari sikap munafik, dia bukan pemimpin pemakan harta Negara,
bukan pemimpin korup, bukan pemimpin yang suka berzina dan berfoya-foya, bukan
pemimpin tangan besi, bukan pemimpin penipu rakyat, bukan pemimin yang suka
membunuh rakyatnya, bukan pemimpin yang mengutamakan kepentingan keluarganya,
dan dia bukan orang jahat. Dia pemimpin yang adil, lemah lembut, taat kepada
Allah, menjalankan syariat Islam, menjalankan keadilan dan hukum Allah di
seluruh negeri dibawah kekuasaan nya.
Ketika
Abu Bakar menemani Rasulullah untuk berhijrah ke Madinah pada 27 Safar tahun 14
dari nubuwwah dan harus bersembunyi di dalam Gua Tsur yang tinggi dan penuh
bebatuan dan medan yang sangat susah ditakluki namun tidak menampakkan rasa
kecewa dan lelah di wajah Abu Bakar karena beliau menemani kawan karibnya
Muhammad SAW., demi sebuah cita-cita yaitu menyebarkan risalah tauhid kepada
masyarakat.
Ketika
tiba di mulut Gua Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah engkau (Muhammad)
masuk ke gua sebelum aku masuk terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang tidak
beres di dalam gua, biarlah aku yang terkena, asal tidak mengenai engkau ya
Muhammad”. Lalu Abu Bakar memasuki gua yang menyisihkan kotoran yang
menghalangi. Di sebelahnya dia mendapatkan lubang. Dia merobek matelnya menjadi
dua bagian dan mengikatkan ke lubang itu. Robekan yang satu lagi dibalutkan ke
kakinya. Setelah itu Abu Bakar berkata kepada beliau, “Masuklah!” maka beliau masuklah
ke dalam gua. Setelah mengambil tempat di dalam gua, Rasulullah SAW.,
merebahkan dirinya dalam pangkuan Abu Bakar dan kemudian beliau tertidur.
Kemudian tiba-tiba Abu Bakar digigit oleh binatang berbisa didalam gua, namun
dia tidak berani menggerak-gerakkan tubuhnya walaupun merasa sangat sakit. Ini
semua dia lakukan agar tidak mengganggu Rasulullah yang sedang tidur nyenyak
karena kecapaian. Tetapi Abu Bakar tetap menahan rasa sakitnya, sehingga
akhirnya karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya dia meneteskan air
matanya hingga jatuh ke wajah Rasulullah.
Ketika
itu Rasulullah terjaga dan bertanya kepada Abu Bakar, “Apa yang terjadi
denganmu wahai Abu Bakar?” Tanya beliau.
Abu
Bakar menjawab, “Demi ayah dan ibuku menjadi jaminanmu aku digigit binatang
berbisa”.
Rasulullah
SAW., meludahi bagian yang digigit sehingga rasa sakitnya hilang. Mereka berdua
bersembunyi didalam gua tersebut selama tiga malam, yaitu malam jum’at, malam
sabtu, dan malam ahad. Inilah model kesetiaan dan kecintaan Abu Bakar kepada
seorang kawannya yang sejati yaitu Muhammad bin Abdullah (Muhammad SAW).
Sebagai pesuruh Allah dalam menyebarkan risalah tauhid kepada manusia sejagat
yang bermula di Jazirah Arab. Kecintaan dan kesetiaan Abu Bakar terhadap
Rasulullah dan terhadap Islam serta kepatuhannya terhadap perintah Allah dan
Rasul-Nya patut dicontohi umat Islam. Dengan kepatuhan dan kecintaan nya serta
kesetiaan ini Abu Bakar dijamin masuk surge oleh Rasulullah selagi dia masih
hidup di dunia ini. Alangkah mulianya sifat Abu Bakar terhadap kawannya,
Nabinya, Gurunya, menantunnya dan pemimpinnya yang agung itu. Inikah model
kesetiaan Abu Bakar Siddiq.
Abu
Bakar juga memiliki Karamah seperti memiliki pengetahuan bahwa ia akan
meninggal dan juga anaknya yang akan lahir perempuan. Dari Urwah bin Zubair
r.a. dari Aisyah r.a. ia mengatakan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.
mengadiahkan kepadanya bebrapa pohon kurma yang hasilnya sebanyak dua puluh
wasaq dari hartanya yang ada di al-Ghabah (hutan). Menjelang kematiannya, dia berkata,
“Demi Allah, hai putriku, tidak ada manusia yang kuinginkan menjadi kaya
sepeninggalku selain engkau dan tidak ada orang yang kubuat susah bila menjadi
miskin sepeninggalku selain engkau. Dahulu pernaha menghadiahkanmu beberapa
pohon kurma yang hasilnya dua puluh wasaq. Jika kau dulu menebangnya, dia
menjadi milikmu. Tapi hari ini ia akan menjadi harta warisan. Anak-anakku yang
masih ada hanyalah dua orang saudara laki-lakimu dan dua orang saudara
perempuanmu. Bagilah harta warisan itu menurut kitabullah”.
Aisyah
bertanya, “Wahai ayahku, seandainya harta itu sebanyak sekian dan sekian,
niscaya aku ditinggalkan. Saudara perempuanku hanya Asma’, siapakah yang satu
lagi?” Abu Bakar menjawab, “masih ada dalam perut ibunya. Kulihat dia seorang
anak perempuan”.
Setelah
itu aku tahu bahwa hal itu benar terjadi. At-Taj as-Subki berkata dalam riwayat
tersebut terdapat dua karamah Abu Bakar, yaitu:
Pertama: pemberitahuannya bahwa ia
akan meninggal dunia karena sakitnya. Hal ini dapat diketahui dari
perkataannya: “tapi hari ini ia akan menjadi harta warisan”.
Kedua: pemberitahuannya mengenai
anak yang ada dalam kandungan istrinya dan akan lahir anak perempuan. Dan
kemudian baru diketahui bahwa benar lahir anak perempuan tersebut.
Kemudian
karamah Abu Bakar setelah ia meninggal, yaitu “ketika jenazahnya dibawa ke
pintu kubur Nabi SAW., dan diserukan: “Assalamualaikum, wahai Rasulullah. Ini
Abu Bakar berda di pintu.” Tiba-tiba pintu-pintunya terbuka da nada yang
berteriak: “pertemukanlah sang kekasih dengan sang kekasih”
a. Kisah
Kesederhanaan Abu Bakar As-Siddiq
Abu
Bakar As-Siddiq adalah seorang pengusaha sukses. Dan sebagai pengusaha muda ia
sering melakukan perjalanan bisnis baik dalam maupun luar negeri di kawasan
Timur Tengah dari situ ia mendapat banyak pengalaman di samping kekayaan.
Sekembbalinya Abu Bakar dari salah satu perjalanan bisnisnya dari Yaman, ia
mendengar bahwa Nabi Muhammad telah mendeklarasikan diri sebagai Nabi dan
Rasul. Tidak lama kemudian, Abu Bakar menerima Islam dan menjadi orang pertama
yang secara terbuka masuk Islam. Mengapa Abu Bakar begitu cepat percaya pada
ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad dan melupakan agama yang dianut oleh
dirinya dan nenk moyangnya?
Namanya
adalah Abdullah bin Usman Al-Taimy Al-Qurasyi. Abu Bakar adalah nama kuniyah,
sedangkan As-Siddiq adalah gelar kehormatan yang diberikan Rasulullah karena ia
selalu mempercayai dan membenarkan apapun yang dikatakan dan dilakukan Nabi ia
lahir di Makkah pada tahun 574 Masehi, 50 tahun sebelum Hijrah, atau 2 tahun
sebelum tahun Gajah. Dengan demikian, Abu Bakar lebih muda 2 tahun dari
Rasulullah. Selain As-shiddiq, Abu Bakar juga mendapat beberapa gelar atau julukan
kehormatan lain seperti Al-Atiq, Ashshohib, Al-AtQa, Al-Awwah, Tsanisnain fil
Ghar, Khalifatu Rasulillah.
Ibnu
Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyatakan bahwa Abu Bakar dikenal sejak
zaman Jahiliyah karena keluasan ilmunya terutama ilmu nasab atau garis
keturunan, kesuksesan bisnisnya dan luwesnya dalam bergaul. Setelah masuk
Islam, ia bergaya hidup sederhana. Kekayaan yang melimpah ia gunakan untuk
membantu kalangan para mualaf ia gunakan untuk membantu kalangan para mualaf
yang miskin terutama memerdekakan umat islam yang masih berstatus sebagai budak
di bawah tuannya yang kafir. Salah satu budak yang paling populer dalam sejarah
Islam berhasil dimerdekakan oleh Abu Bakar adalah Bilal bin Robah Al-Habasyi.
Bilal adalah seorang budak milik Umayah bin Khalaf al-Jamhi. Mengetahui bilal
sudah menjadi Muslim, Al-Jamhi menyiksanya. Abu Bakar lalu menebus Bilal dan
memerdekakannya. Bilal kemudian dikenal dalam sejarah sebagai muadzin utama
Nabi dan salah satu perawi hadits Rasulullah.
Gaya
hidupnya yang sederhana walaupun kaya membuatnya siap secara mental untuk
menjadi miskin kalau memang itu diperlukan. Oleh karena itu, ia tidak ragu
mewakafkan seluruh hartanya demi perjuangan Islam. Sikap ini diabadikan Allah
dalam Q.S. Al-Lail ayat 6.
Abu
Bakar mendapat penghargaan khusus dari Allah yang menyebutnya dan mengabadikan
namanya dalam Al-Quran. Setidaknya ada dua ayat dalam Al-Quran yang
membicarakannya, dalam Q.S. At-Taubah:40, Allah berfirman “Jika kamu tidak
menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika
orang-orang kafir (musyrik Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah
seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata
kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta
kita.”
Ayat
kedua menyebut Abu Bakar terdapat dalam Q.S. Al-Lail ayat 6 dimana Allah
berfirman “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa,
dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah.”
Bagi
Rasulullah, Abu Bakar adalah seorang sahabat sejati. Seorang teman yang selalu
siap untuk membantu kapanpun diperlukan. Teman yang selalu siap berada
disisinya dalam keadaan suka dan duka. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda
tentang Abu Bakar. “Sesungguhnya orang yang paling benar asanya dalam
persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Anai saja aku
diperbolehkan memilih kekasih selain Rabbku, pasti aku akan menjadikan Abu
Bakar sebagai kekasih, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan
karenanya.” Nabi masih ingat betul peristiwa sangat menegangkan saat mereka
berdua dalam pelarian menyelamatkan diri dari dari kejaran kaum kafir Quraisy
yang hendak membunuhnya. Dimana saat mereka berdua bersembungyi di gua Tsur
kaum kafir sudah berada tepat di atas mereka yang sekiranya kaum musyri itu
melihat ke bawah kakinya niscaya mereka akan melihat keduanya. Peruangan Abu
Bakar membela agma Allah dan EasulNya telah membuat dia termasuk dari 10 orang
yang dijamin masuk surga.
Banyak
pelajaran inspiratif dari sosok Abu Bakar bagi umat Islam secara keseluruhan
antara lain, pertama, komitmen untuk melaksanakan tuntunan ajaran Islam harus
total, tiak setengah-setengah. Hanya dengan cara ini, maka ajaran Islam dapat
memiliki dampak signifikan pada perilaku seseorang. Baik perilaku pada Allah
dan Rsul-Nya maupun pada sesama manusia. Sebagian besar dari ita hanya
ber-Islam sebatas melaksanakan perintah wajib dan menjauhi yang haram saja itu
pun dengan setengah hati.
Kedua,
pengorbanan waktu, tenaga dan materi demi memuliakan dan menegakkan ajaran
Islam harus dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa motif duniawi dalam rangka
untuk meningkatkan kadar keimanan dan keislaman kita di mata Allah.
b. KEMULIAAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Rasulullah saw berkata, "Sesungguhnya orang yang
paling banyak berbuat baik kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu
Bakar as Siddiq." (HR. Bukhari-Muslim). Rasulullah adalah seseorang yang
menanamkan kebaikan kepada setiap orang yang selamat dari api neraka, sebab hidayat dan keimanan yang
diberikannya. Akan tetapi beliau mengakui bahwa Abu Bakar as siddiq adalah
orang yang paling banyak berbuat baik kepadanya.
Dengan demikian, jelaslah bagi kita akan kemuliaan yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq. Meskipun kebaikan Abu Bakar terhadap Rasulullah tidak dapat dibandingkan dengan kebaikan Rasulullah kepadanya. Akan tetapi ini merupakan ungkapan rasa syukur Rasulullah atas apa yang dilakukan Abu Bakar kepadanya dan umat ini. Hal ini diperjelas dalam perkataannya yang lain, "Tidak ada tangan seseorang yang bersama kami kecuali kami telah mencukupinya, kecuali Abu Bakar. Sesungguhnya dia memiliki tangan yang telah dicukupi oleh Allah pada hari kiamat." (HR.Tirmidzi).
Dengan demikian, jelaslah bagi kita akan kemuliaan yang dimiliki Abu Bakar Ash-Shiddiq. Meskipun kebaikan Abu Bakar terhadap Rasulullah tidak dapat dibandingkan dengan kebaikan Rasulullah kepadanya. Akan tetapi ini merupakan ungkapan rasa syukur Rasulullah atas apa yang dilakukan Abu Bakar kepadanya dan umat ini. Hal ini diperjelas dalam perkataannya yang lain, "Tidak ada tangan seseorang yang bersama kami kecuali kami telah mencukupinya, kecuali Abu Bakar. Sesungguhnya dia memiliki tangan yang telah dicukupi oleh Allah pada hari kiamat." (HR.Tirmidzi).
c. SIFAT LUHUR ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ
Abu Bakar radhiyallahu ’anhu tumbuh
dengan akhlak yang mulia, perilaku yang terpuji, dan pribadi yang luhur. Beliau
adalah pedagang dan termasuk pembesar dan penasehat kaum Quraisy. Beliau juga
dicintai oleh kaumnya dan akrab dengan mereka. Tidak terdapat berita yang
mengabarkan bahwasanya beliau radhiyallahu ’anhu menyembah berhala dan meminum
khamr pada masa jahiliyyah. Hal ini disebabkan karena baiknya fitrahnya dan
bagusnya kualitas akalnya. Beliau terkenal dengan sifat tawadhu’, zuhud, dan
meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ketika beliau dipuji,
beliau berdo’a.
“Ya Allah engkau lebih tahu tentang diriku
daripada aku, dan aku lebih tahu tentang diriku daripada mereka, Ya Allah
jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, ampunilah aku dari apa
yang mereka tidak ketahui dan jangan siksa aku atas (pujian) yang mereka
katakan.” (Al Ishabah : 335)
Abu Bakar radhiyallahu ’anhu adalah
orang yang pertama masuk Islam dari kalangan lak-laki dewasa. Tidak ada yang
menunjukkan sempurnanya keimanan Abu Bakar radhiyallahu ’anhu kecuali karena
bersegeranya dalam membenarkan apa yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika peristiwa Isra Mi’raj. Dimana pada saat itu kaum Quraisy
mendustakannya dan banyak dari kaum muslimin yang murtad tidak mempercayai
berita tersebut. Akan tetapi Abu Bakar radhiyallahu ’anhu membenarkan peristiwa
Isra Mi’raj.
2.2.
Akhlak Umar bin Khattab
Umar
bin Khattab lahir di Mekkah sekitar tahun 586 atau 590 M yakni 40 tahun sebelum
Hijrah. Ia lahir 13 tahun setelah kelahiran Nabi. Umar dikenal sebagai pribadi
yang jujur dalam arti yang sebenarnya. Ketika ia masuk islam tidak ada hal lain
yang memotivasinya untuk melakukan itu kecuali karena murni disebabkan oleh
keyakinannya akan kebenaran islam. Kejujuran Umar ini pun mendapat pengakuan
langsung dari Rasulullah sendiri. Dalam ebuah hadits riwayat Ahmad, Nabi
bersabda: “Sesunggihnya Allah menjadikan kebenaran itu pada lisan dan hati
Umar.”
Umar
bin Khattab adalah sahabat Rasulullah yang memiliki banyak kelebihan dan
keunggulan baik dari segi kualitas pribadi, fisik, kecerdasan, kearifan,
ketajaman insting dan keikhlasan serta loyalitas yang tinggi pada Islam.
Umar bukan tergolong kalangan yang
paling awal mauk Islam. Ia baru menjadi seorang muslim setelah lima tahun Nabi
Muhammad diangkat menjadi Rasul. Bahkan masa awal kerasulan Nabi Muhammad, Umar
menjadi slah atu penentang Islam yang paling gigih dan ditakuti. Tapi begitu ia
menjadi bagian dari umat Islam, ia langsung mengabdikan diri secara total paa
Islam sehingga dalam waktu tidak lama Umar masuk di dalam lingkaran utama Sahabat
Rasulullah di samping Abu Bakar, Utsman dan Ali bin Abu Thalib.
Kejujuran
membawa keikhlasan. Dan sikap ikhlas berdampak pada kuatnya keyakinan dan
keimanan. Itulah yng terjadi pada Sahabat Umar. Keimanan dan keislamannya
total, Kaffah dan tidak parsial. Dalam arti, segala perilaku Umar setelah masuk
Islam betu-betul berdasarkan pada tuntunan syariah semata. Ia membuang segala
pengruh masa lalu yang tidak sesuai dengan syariah semata. Ia membuang segala
pengaruh masa lalu yang tidak sesuai dengan syariah islam bukan hanya dalam
masalah Ibadah, tapi juga perilaku keeharian lainnya. Itulah yang membuat Umar
istimewa di mata Nabi. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim Nabi
memuji totalitas Umar dalam berislam. Nabi bersabda: “Pada saat aku tertidur
aku melihat manusia berdatangan kepadaku dan mereka memakai baju pada aku
melihat manusia berdatangan kepadaku dan mereka memakai baju pada badan mereka,
di antara mereka ada yang bajunya sampai dada mereka, dan di antara mereka ada
yang di bawah susu, lalu Umar datang dan dia memakai baju yang sangat panjang.
Para Shahabat bertanya: “Apanya penafsiran mimpi tersebut wahai Rasulullah?”
Nabi bersabda: Agama (pemahaman terhadap agama).”
Keperkasaan
fisik, keberanian, kecerdasan dan karifan biasanya tidak berkumpul bersamaan
dalam diri seseorang. Akan tetapi Umar memiliki itu semua. Umar dikenal karena
kekuatan fisik dankeberaniannya sehingga Nabi pun berdoa agar Islam dapat
berjaya dengan adanya Umar. Dalam hadits riwayat Tirmidzi, nabi berdoa: “Ya Allah,
muliakanlah Islam ini dengan salah seorang dari dua llak yang engkau sukai,
yaitu Abu Jahl atau Umar bin Al-Khattab”. Ibnu Abbas menyatakan: “Orang yang
pertama masuk Islam secara terang-terangan adalah Umar.”
Kecerdasan
dan kearifannya telah membuat sejumlah pendapat dan nasihatnya pada Nabi
diikuti oleh Rasulullah dan bahkan dikonfirmasi oleh Al-Quran. Dalam hadits
riwayat Bukhari Muslim, Umar berkata, “Pendapatku sesuai dengan ayat-ayat Allah
pada tiga perkara. Aku berkata, “Wahai Rasulullah seandainya kita menjadikan
maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, maka turunlah firman Allah: “Dan
jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat salat”. (QS. Al- Baqarah: 125). Dan
ayat tentang hijab, aku berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau menyuruh
kepada istri-istrimu untuk berhijab, sebab orang yang berbicara dengan mereka
adalah orang yang baik dan buruk, lalu turunlah ayat tentang hijab (Al Ahzab
:59) maka berkumpullah para istri Nabi Muhammad dan cemburu kepadanya maka aku
berkata kepada mereka (dengan membacakan sebuah ayat): “Jika Nabi menceraikan
kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang
lebih baik daripada kamu…”. (QS. Al-Tahrim: 5).
Begitu
juga, pendapat Umar sesuai dengan ayat Allah di dalam sikap terhadap tawanan
perang Badar, dan masalah meninggalkan shalat atas orang munafik dan banyak
lagi pendapat-pendapat yang lain.
Kualitas
kepemimpinan, keilmuan dan keislaman Umar hanya berada di bawah Nabi. Dan itu
diakui Nabi sendiri saat beliau bersabda: “Kalau ada Nabi setelah aku, maka itu
adalah Umar.” Dan secara kebetulan, Michael H. Hart, seorang non-muslim
keturunan Yahudi, dalam bukunya The 100: A Ranking of the Most Influential
Persons in History pada 1979 menempatkan Umar dalam ranking ke-51 dari 100
tokoh paling berpengaruh dunia sepanjang sejarah. Sedangkan peringkat pertama
adalah Nabi Muhammad.
Umar
bin Khattab adalah seorang sahabat Nabi SAW. Yang paling adil dan tegas ketika
menjadi Amirul Mukminin. Dia disegani oleh kawannya dan ditakuti ole musuhnya.,
namun beliau menjalankan kehidupannya yang amat sederhana dan sangat adil
kepemimpinannya. Dia sangat terkenal bukan hanya ketika masuk Islam akan tetapi
jauh sebelum Islam sudah ternama di pasar Ukaz.
Beranjak
dari masa mudanya sosok tubuh Umar tampak berkembang lebih cepat dibandingkan
teman-teman sebayanya. Dia lebih tinggi dan ebih besar perawakannya. Ketika Auf
bin Melihat orang banyak berdiri sama tinggi, hanya ada seorang yang tingginya
jauh melebihi yang lainnya sehingga ia sangat mencolok. Bila mana ia menanyakan
siapa orangnya yang tinggi itu? Dia jawab, “Dialah Umar bin Khattab.”
Wajahnya
putih agak kemerahan, tangannya kidal dengan kaki yang lebar sehingga jalannya
cepat sekali. Ssejak mudanya ia sudah mahir dalam bidang olahraga: misalnya bergulat,
menunggang kuda, dan menggunakan pedang. Ketika dia sudah masuk Islam ada
seorang gembala ditanyai orang: kamu tahu bahwa si kidal itu sudah masuk Islam?
Gembala itu menjawab: yang sering beradu gulat dipasar Ukaz? Setelah dijawab
bahwa dia, gembala itu memekik: oh, mungkin ia akan membawa kebaikan buat
mereka, atau mungkin juga bencana.
Setelah
menjadi khalifah Umar berdo’a dengan do’a nya yang pertama adalah: Ya, Allah,
aku sungguh tegar, maka lunakanlah aku. Ya Allah, aku ini lemah, maka berilah
aku kekuatan. Ya Allah, aku sungguh kikir, maka jadikanlah aku pemurah. Sejak
masa mudanya Umar sudah memiliki watak keras dan kasar dan ini merupakan sifat
ayahnya yang turun kepada Umar. Ini didukung oleh tubuhnya yang kekar dan kuat.
Mengenai kebakhilannya dalam hal harta, ia memang tidak pernah kaya dan juga
ayahnya, dan sepanjang hidupnya ia sangat sederhana. Dia seperti layaknya
penduduk Mekkah yang lain yaitu suka berdagang, tetapi ia tidak pernah mendapat
keuntungan yang banyak dari perdagangannya karena wataknya yang keras dan kasar
makannya dalam berbisnis pasti tidak banyak orang suka. Dia banyak melakukan
perdagangan ke Yaman dan Syam bukan hanya dimusim panas dan musim dingin saja
bahkan sepanjang tahun dia berbisnis hingga ke Persia dan Romawi. Tetapi dalam
perjalanan dia lebih mengutamakan pemikiran daripada perdagangan karena itu ia
lebih mengutamakan pemikiran daripada perdagangan karena itu ia lebih banyak
bertemu dengan orang-orang besar dan berdiskusi dan salah satu kesenagannya
adalah bertukar pikiran dengan pemuka dan tokoh masyarakat karena ia ingin
menggali ilmu dan gaya kepemimpinan. Makannya ketika beliau menjadi khalifah
sesudah Abu Bakar As-siddiq, kepemimpinannya sangat adil dan tegas dan sangat
ditakuti oleh musuh dan disegani oleh kawannya.
a.
Kisah Islamnya Umar bin
Khattab
Umar
masuk Islam menurut berita yang sudah makruf diketahui sesudah empat puluh lima
orang lelaki dan dua puluh orang perempuan. Artinya jika dihitung-hitung secara
gemblang bahwa Umar merupakan orang yang ke enam puluh enam masuk Islam. Dengan
kata lain Umar masuk Islam sesudh kaum muslimin hijrah ke Abisinia, dan jumlah
orang yang hijrah pada waktu itu hampir mencapai Sembilan puluh orang lelaki
dan perempuan. Demikianlah menurut sebuah pendapat yang umum diketahui. Sesudah
mereka hijrah, Umar mendatangi Nabi dan para sahabtanya di Darul Arqam, di
bukit Safa, dan jumlah kaum lelaki dan perempuan empat puluh orang. Dengan
demikian juga bisa kita sebutkan bahwa sesudah Umar masuk Islam ada seratus
tiga puluh orang sudah duluan masuk Islam.
Berita
yang terkenal sebab-sebab masuk Islamnya Umar adalah karena dia tidak tahan
lagi seruan Muhammad dan dia anggap ini sebuah perbuatan memecah belahkan kaum
Quraisy. Sehingga dia menyiksa orang-orang yang sudah masuk Islam. Nabi
memberikan perintah bahwa siapa yang sudah siap maka berangkatlah untuk hijrah
ke Abisinia, mereka pergi secara terpencar-pencar agar tidak mudah diketahui
oleh kaum Quraisy. Setelah Umar melihat mereka pergi, ia merasa sangat terharu
dan merasa kesepian berpisah dengan mereka. Menurut sumber dari Umm Abdullah
binti Abi Hismah menyebutkan bahwa ketika kami berangkat dan datanglah Umar
menghadang kami, dan pada waktu itu Umar masih dalam keadaan syirik. Umar telah
Banyak menyiksa mereka sebelumnya, dan pada hari itu Umar bertanya, jadi juga
berangkat wahai Umm Abdullah? Ya, kami akan ke luar dari bumi Allah ini, karena
kalian selalu mengganggu kami, menyiksa kami, dan kalian memaksa kami dan kami
tidak sanggup lagi menderita karena perbuatan kalian. Kemudian Umar berkata,
semoga Allah memberi ke jalan ke luar kepada kalian dan Allah akan menyertai
kalian. Saya lihat Umar begitu terharu melihat kami dan saya belum pernah
melihat Umar sebelumnya, demikian pengakuan Umm Abdullah. Kemudian dia pergi,
dan saya lihat dia sangat sedih atas kepergian kami. Setelah itu suamiku dating
dan saya ceritakan percakapanku dengan Umar. Mungkin Umar akan masuk ke dalam
Islam. Kata suaminya, “Umar tidak akan mungkin masuk Islam sebelum keledai
Khattab masuk Islam lebih dulu”.
Suatu
pagi dengan pedang terhunus ditangannya ia hendak membunuh Muhammad. Namun
dalam perjalanan ke Darul Arqam, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah dan
menanyakan, “Umar mau kemana?” saya mau mencari Muhammad, dia telah memecah
belahkan kaum Quraisy dengan menghancurkan agama nenek moyang kita. Dan saya
aka membunuhnya. Nu’aim menjawab, “Anda menipu diri sendiri wahai Umar. Apakah
anda kira Abdul Manaf akan membiarkan anda bebas berkeliaran kemana-mana
setelah membunuh Muhammad?” Lebih baik anda pulang dulu ke rumah anda urus dulu
keluarga anda, luruskan mereka lebih dahulu. Bereskan dulu adikmu Fatimah binti
Khattab dan ipar dan sepupumu Sa’id bin Zaid. Mereka sudah menjadi pengikut
Muhammad. Mereka itulah yang harus engkau hadapi pertama kali. Begitu mendengar
ucapan Nu’aim bin Abdullah, Umar naik darah dan langsung kerumah adiknya
Fatimah. Ketika itu disana ada Khabah bin Al-Arat yang sedang memegang
lembaran-lembaran Al-Qur’an dan membacakan surat Thaha. Begitu mereka merasa
ada Umar datang, maka Khabah brsembunyi di kamar mereka dan Fatimah
menyembunyikan kitab itu.
Setelah
masuk kedalam rumah, Umar meminta adiknya mana lembaran yang dibaca tadi?
Fatimah menjawab, “Tidak!” kata Umar lagi, “saya telah mendengar apa yang
engkau baca tadi, dan apakah anda berdua telah menjadi pengikut Muhammad?” Ia
kemudian menghantam Sa’id bin Zaid dengan keras dan Fatimah lari membantu
suaminya dan ia tidak luput terkena hantaman Umar hingga wajahnya bercucuran
darah. Melihat tindakan Umar yang begitu brutal, mereka menjawab, “Ya kami
telah memeluk agama Islam, dan kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
Muhammad”.
Melihat
darah yang keluar dari muka adiknya maka Umar merasa menyesal dan menyadari apa
yang telah diperbuatnya. “Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi”,
katanya. “Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!” Fatimah berkata, “Kami
khawatir anda akan menyia-nyiakannya”. “jangan takut”, kata Umar. Lalu ia
bersumpah atas nama dewa-dewanya bahwa dia akan mengembalikannya jika ia sudah
selesai membacanya. Kemudian Fatimah memberikan kitab tersebut dan Umar
membacanya sebagian, dan selanjutnya dikembalikan kepada Fatimah. Lalu Umar
berkata: “Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!” mendengar kata-kata
Umar, Khabbah yang tadi bersembunyi langsung ke luar dan berkata kepada Umar: “Umar,
Demi Allah, saya sangat mengharapkan agar Allah memberi kehormatan kepada anda
dengan ajaran Rasul-Nya ini”. Kemarin saya mendengar Rasulullah berdo’a: “Ya
Allah, perkuatlah Islam ini dengan Abu Hakam bin Hisyam dan Umar bin Khattab”.
Karena itu berhati-hatilah wahai Umar. Kemudia Umar memanggil Khabbah,
“antarkan saya dimana Muhammad?” Saya akan menemuinya dan masuk Islam. Khabbah
menjawab, silahkan anda pergi kerumah Arqam bin Abi Arqam di bukit Safa,
Muhammad dan para sahabatnya ada di situ. Kemudian Umar mengambil pedangnya dan
langsung pergi ke tempat Muhammad.
Umar
tiba di tempat Rasulullah dan langsung mengetuk pintu. Rasulullah dan para
sahabatnya berada di dalam rumah dan salah seorang sahabat mengintip dari dalam
dan melihat Umar di luar bersama dengan pedangnya. Ia kembali ketakutan dan
berkata: “Rasulullah, Umar bin Khattab datang dengan membawa pedang”. Tetapi
Hamzah bin Abdul Muthalib menyela; “izinkan dia masuk, kalau kedatangan nya
dengan tujuan yang baik, maka kita layani dengan baik, jika kedatangannya
bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”. Ketika itu
Rasulullah berkata: “izinkan dia masuk”. Sesudah diberi izin Rasulullah berdiri
dan langsung menemui Umar disalah satu ruangan, dan beliau menggenggam bajunya
dan menarik kuat-kuat seraya berkata: “Ibn Khattab, apa maksudmu datang
kemari?” Rupanya anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana
kepada anda”.
“Ya
Rasulullah”, kata Umar. “kehadiran saya disini adalah untuk menyatakan
keislamanku kepada Allah dan Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah”.
Ketika itu Rasulullah bertakbir Allahu Akbar! Sehingga didengar oleh para
sahabatnya yang sudah dipahami bahwa Umar telah mengucapkan dua kaliamh
syahadat.
Setelah
Umar masuk Islam, dia mengumumkan keislamannya secar terang-terangan di depan
kaum Quraisy. Setelah masuk Islam, besok paginya dia langsung kerumah Abu
Jahal. Ia mengetuk pintu Abu Jahal. Ia membukakan pintu seraya berkata: Selamat
datang, kemenakanku! Ada apa?” saya
menjawab, saya datang untuk memberitahukan kepada anda bahwa saya telah beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad dan saya percaya akan apa yang di bawanya”.
Ia membanting pintu didepanku, sambil berkata: “Sial kau! Dan engkau membawa
berita celaka”.
Setelah itu Umar pergi ke Ka’bah
untuk memenui seseorang yang agar orang itu mengabarkan berita keislamanku.
Lalu ia berjumpa dengan Jamil bin Ma’mar al-Jumahi. Pagi itu setelah berjumpa
dengannya dia berkata, apa yang engkau tahu Jamil? Bahwa saya sudah masuk ke
dalam Agma Islam. Ia tidak membantah dan tidak mengatakan apa-apa di depan Umar
tetapi terus mengikutinya. Dan ketika Jamil sudah berada di depan Ka’bah, dia
berteriak, hai kaum Quraisy, Umar sudah menyimpang dari agama leluhurnnya! Lalu
Umar berkata dari belakangnya, bohong! Tetapi yang benar bahwa saya sudah masuk
agama Islam dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
hamba dan Rasul-Nya.
Suatu
hari Umar bertanya kepada Rasulullah SAW., “Ya Rasulullah, bukankah hidup dan
mati kita di tangan Allah, bukankah kalau kita mati dalam mempertahankan
kebenaran?” Rasulullah menjawab, memang benar wahai Umar, memang hidup dan mati
kita dalam kebenaran. “kalau begitu”, kata Umar lagi,”
Kebenaran. “kalau begitu,” kata
Umar lagi, “mengapa kita sembunyi-sembunyi?” Demi yang mengutus anda, Demi
kebenaran, kita harus ke luar!” Tak lama kemudian Rasulullah keluar dalam dua
rombongan, yang satu dipimpin oleh Rasulullah yang di dalamnya ada Umar, dan
yang satu lagi dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Keduanya lambing
keperkuasaan Islam dan terus ke Ka’bah dan orang-orang musyrik/kafir Quraisy
melihat mereka dengan wajah sendu dan tidak ada yang berani mendekat.
Setelah
Umar masuk Islam, maka situasi kota Mekkah agak berubah dan kaum Quraisy
semakin terpojok dan kekuatan Islam bertambah kuat. Islam semakin cemerlang
ketika Islam masuk ke dalam dada Umar bin Khattab. Islam disebarkan secara
terang-terangan dan kaum Quraisy Mekkah akan berpikir dua kali jika berhadapan
dengan Umar dan umat Islam yang lain, karena umat Islam semakin hari semakin
bertambah. Satu demi satu pemuda, pedagang, orang kaya, dan pemuka kaum Quraisy
masuk Islam dengan penuh kesadaran.
b.
Kelebihan Umar bin
Khattab
Ketika
mesir ditaklukan oleh pasukan Islam di bawah panglima perang Amru bin ‘Ash,
maka beberapa orang pembesar Mesir yaitu orang Kopti yang beragama Kristen
menemui Amru bin ‘Ash. Mereka meminta izin untuk merayakan Hari pengantin
sungai Nil yang jatuh pada hari sabtu bulan Ba’unah menurut kalender Kopti.
Jika tanggal tersebut mereka sering melakukan perayaan karena dalam bulan-bulan
Ba’unah, abib dan Masra (masing-masing bulan kesepuluh, sebelas dan dua belas
dalam kalender Mesir Kuno) sungai Nil kering dan sedikit sekali mengalir
airnya. Sehingga mereka mencari seorang gadis perawan yang cantik dan meminta
restu orangtuanya, setelah dihias dengan begitu cantik dan kemudian dilemparkan
kehanyutan ke dalam sungai Nil. Menurut Amr bin ‘Ash, dalam Islam tidak boleh
melakukan hal itu karena itu khurafat dan takhayul atau syirik dan itu bisa
dilakukan semasa jahiliyah. Namun demikian, orang-orang Kopti meminta agara
Amru bin ‘Ash meminta izin Umar bin Khattab di Madinah.
Lalu
Umar menulis surat kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab dan menceritakan
semua yang akan orang Kopti lakukan dan bagaimana keputusan Amru sendiri.
Ketika suratnya diterima oleh Umar bin Khattab, maka beliau membalasnya dengan
mengatakan: “sikap anda sudah benar wahai Amru, Islam menghapus perlakuan
jahiliyah atau perbuatan sebelumnya. Lalu Umar menulis surat kepada Amru dan
jika suratku sampai maka lembaran tersebut engkau lemparkan ke dalam sungai
Nil. Isi surat Umar yaitu: “Dari hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin
Khattab, kepada sungai Nil, Mesir. Amma ba’du. Kalau selama ini engkau mengalir
karena kehendakmu sendiri, maka janganlah mengalir lagi wahai sungai Nil.
Tetapi jika Allah SWT., Yang Maha Tunggal, dan Maha Perkasa yang membuatmu
mengalir, maka kami berdo’a kepada Allah SWT., agar membuatmu mengalir”.
Kemudian isi surat itu dilemparkan oleh Amru ke dalam sungai Nil sehari sebelum
Hari Raya Salib, maka air sungai Nil meluap hingga delapan belas depa dalam
satu malam, dan penduduk Mesir selamat dari yang sial itu”. “Demikianlah surat
Umar bin Khattab dengan izin Allah terkabulkan hendaknya. Setelah Umar bin
Khattab melakukan itu dan hingga sekarang ini tidak ada lagi tradisi itu di
Mesir. Dan hingga kini sungai Nil itu tidak pernah kering airnya dengan izin
Allah Swt. Ini sebuah tindakan yang paling berani yang dilakukan Umar bin
Khattab sehingga hingga hari ini masyarakat Mesir tidak lagi bergelimang dalam
kesyirikan, takhayul dan khurafat. Inilah model ulama-umara yang diperlukan
saat ini agar dapat menghapuskan para pelaku bid’ah, khufarat dan takhayul di
seluruh pelosok negeri. Umat bukannya diberi pemahaman ke jalan yang benar,
akan tetapi diperbodohkan oleh orang yang punya sedikit ilmu.
Kemudian
ada lagi karamah atau kelebihan Umar bin Khattab yang diberikan Allah
kepadanya, yaitu: Pada suatu ketika munculnya api di beberapa wilayah di Madinah.
Lalu Umar bin Khattab menulis surat pada satu sobekan kertas: “Hai api,
padamlah kalian dengan izin Allah”. Lalu orang-orang melempar sobekan itu ke
dalam api, maka padamlah api pada saat itu pula.
Selanjutnya
disebutkan oleh Imam Hurmain dalam kitabnya Asy-Syamil bahwa pada saat bumi
dilanda gempa pada masa Umar menjadi Khalifah. Kemudian Umar bin Khattab memuji
Allah dan penuh sanjung
N dan harapan kepada-Nya, sementara
bumi sedang bergetar dan berguncang. Lantas dia memukul bumi dengan cambuk, seraya
berkata: “Tenanglah kamu, bukankah aku telah berbuat adil kepadamu?” Saat itu
bumi menjadi tenag seketika.
Kemudian
pada suatu saat ketika Umar bin Khattab sedang berkhuthbah pada hari jumat,
tiba-tiba dia meninggalkan khuthbahnya dan berteriak, “Wahai Sariyah,
berlindunglah ke gunung!” sebanyak dua kali.
Sebagian
para sahabat Rasulullah mengatakan: Umar sudah gila, dia meninggalkan khuthbah
dan berteriak. Setelah itu Abdurrahman bin Auf datang menemuinya dan tersenyum
kepadanya sambil berkata: “Wahai Amirul Mukminin, apa yang engkau perbuat
sehingga engkau menjadi buah bibir orang-orang di dalam Masjid, karena pada
saat engkau berkhuthbah tiba-tiba engkau berteriak “Wahai Sariyah,
berlindunglah ke gunung!” Umar menjawab, “demi Allah, aku tidak bisa menahan
diriku untuk melakukannya karena aku melihat Sariyah dan Pasukannya berperang
di dekat sebuah gunung. Mereka diserang di bagian depan dan belakang. Hingga
aku tidak bisa menahan diri untuk mengatakan: “Wahai Sariyah, berlindunglah ke
gunung!” agar mereka bisa selamat dari gempuran musuh, dan carilah tempat
perlindungan ke gunung”.
Beberapa
hari kemudian, seorang utusan Sariyah datang dengan membawa surat dari Sariyah
yang barisi: “Suatu kaum menyerang kami pada hari Jum’at, lalu kami berperang
dengan mereka sejak shalat subuh hingga menjelang Jum’at. Selanjutnya kami
mendengar suara seorang penyeru: “Wahai Sariyah, berlindunglah ke gunung!”
sebanyak dua kali. Akhirnya kami berlindung ke gunung itu, dan kami dapat
mengalahkan mereka hingga Allah mengahncurkan mereka. Demikianlah para sahabat
Rasulullah yang Allah berikan kelebihan di dinia ini selagi masih hidup di
dunia ini. Makanya Rasulullah pernah bersabda yang artinya “Jangan kamu
menghina sahabatku karena jika kamu bersedekah sebesar gunung Uhud pun tidak
sebanding dengan satu genggaman tanah sedekah para sahabatku”. Walau sekecil
debu pun sedekah Rasulullah lebih bernilai dihadapan Allah daripada sedekah
kita bermiliar rupiah atau berjuta dolar yang tidak didasari dengan keikhlasan
kita, demikian pula perjuangan para sahabat dalam menegakkan Islam, membela
Nabi Muhammad Saw. dan mematuhi perintah Allah Swt. tidak seberapa jika
dibandingkan dengan apa yang kita perbuat dewasa ini.
c.
Umar bin Khattab
Tentang Sedekah
Pada
suatu hari Umar bin Khattab r. a. pernah dikirim harta yang banyak. Beliau
memanggil salah seorang pembantu dekatnya dan berkata, “Ambillah harta ini dan
pergilah ke rumah Abu Ubaidah bi Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah
itu berhentilah sesaat di rumahnya dan lihatlah apa yang ia lakukan dengan
harta tersebut”.
Umar
bin Khattab ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya itu.
Ketika pembantu tersebut sampai di rumah Abu Ubaidah, dan berkata. “Amirul
Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada
Anda, “silahkan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja
yang engkau kehendaki”.”
Kemudian
Abu Ubaidah r.a. berkata, “Semoga Allah mengaruniakan keselamatanan kasih
sayang-Nya kepada Amirul Mukminin. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang
berlimpah”.
Kemudian
ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya, “Kemarilah, bantu aku
membagi-bagikan harta ini!” Lalu Abu Ubaidah mulai membagi-bagikannya kepada
kaum fakir miskin, dan orang-orang yang memerlukannya dari kaum muslimin,
sampai seluruh harta tersebut habis diinfakkan semuanya.
Kemudian
kembalilah pembantu tersebut dan menceritakan apa yang dilakuan oleh Abu Ubaiah
kepada Umar bin Khattab. Lalu Umar pun menyuruh pembantunya untuk memberikan
tambahan kepada Abu Ubaidah 400 dirham lagi.
Setelah
itu Umar berkata kepada pembantunya, “Berikan harta ini lagi kepada Mu’az bin
Jabal dengan harta tersebut?” Maka berangkatlah pembantu tersebut ke rumah
Mu’az bin Jabal r.a. dan berhenti sesaat untuk melihat apa yang dilakukan Mu’az
terhadap harta tersebut.
Ternyata
Mu’az memanggil hamba sahaya, “Kemarilah, tolong aku membagi-bagikan harta
ini!” Lalu Mu’az pun mulai membagi-bagikan harta tersebut kepaa fakir miskin
dan epada mereka yang membutuhkannya dari kaum muslimin, hingga harta itu habis
sama sekali dibagi-bagikan.
Ketika
itu, istri Mu’az bin Jabal melihat dari dalam rumahnya, lalu memanggilnya,
“Demi Allah, aku juga miskin”. Mu’az pun mulai berkata, “Ambillah dua dirham
saja”.
Pembantu
tersebut kembali lagi kepada Umar bin Khattab untuk kali ketiganya. Kemudian
beliau memberinya lagi empat ratus dirham, dan berata,”pergilah ke tempat Sa’ad
bin Abi Waqash”. Ternyata Sa’ad juga melakukan hal serupa seperti yang dilakuan
oleh Mu’az dan Abu Ubaidah. Setelah itu pembantu tadi pulang dan menceritakan
kepada Umar bin Khattab apa yang telah dilihat pada Sa’ad bin Abi Waqash.
Kemudian
Umar menangis dan berkata, “segala puji dan syukur bagi Allah”. Sesungguhnya
mereka emua dalah saudara satu sama lain. Semuanya dididik oleh pendidik yang
sama dan sumber lain yang sama. Mereka tidak pernah berubah sepeninggal Nabi
Muhammd Saw. semikianlah akhlak dan ketaatan para sahabat Rasulullah baik dalam
menjalankan amanah, dalam ketaatan terhadap Allah, Rasul serta kepada
pemimpinnya (Amirul Mukminin), ataupun dalam menjaga amal ibadah mereka serta
menjaga umat yang berada di bawah kepemimpinan mereka.
d.
Kisah Umar bin Khattab
Mengumpulkan Zakat
Pada
suatu hari Rasulullah Saw. menugaskan Umar bin Khattab untuk mengumpulkan zakat
pada kaum muslimin. Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab
Shahihnya. Ketika itu Rasulullah mengutus beliau dengan bersabda: “Pergilah,
kumpulkanlah harta zakat”.
Kemudian
Umar mulai pergi mengelilingi daerah-daerah yang ada penduduk dan mengunjunguni
kaum muslimin dengan sebuah perintah, “Bayarlah zakat kalian”. Harta zakat yang
didapatkannya bukan untuk istana atau kantor-kantor melainkan untuk diberikan
kepada fakir miskin serta kepada orang-orang yang memerlukannya.
Ketika
bertugas, Umar pergi dari pintu ke pintu dengan menyampaikan perintah,
“Bayarlah zakat!”
Semua
orang yang didatangi, Umar ditanyai, “Siapa yang telah mengutus engkau?”
“Yang
mengutusku adalah Rasulullah Saw.” jawab Umar.
Ketika
mendengar nama Rasulullah disebutkan, dengan serta merta mereka langsung
membayar zakat. Setelah Umar mendatangi seluruh kaum muslimin, hingga tibalah
ia ke tempat Abbas, paman Rasulullah Saw., lalu Umar pun berkata kepadanya,
“Bayarlah zakat”.
Abbas
bertanya, “Siapa yang telah mengutus engkau?”
”Rasulullah
Saw.”, jawab Umar
Abbas
Berkata, “Aku tidak akan membayarnya”.
Kemudian
Umar pergi menuju Khalid bin Walid, seorang panglima perang, dan berkata
kepadanya, “Bayarlah zakat”.
Khalid
bertanya, “Siapa yang telah mengutusmu?”
“Rasulullah”,
jawab Umar.
Khalid
berkata, “Aku tidak akan membayarnya”.
Kemudian
Umar pergi menuju Ibnu Jamil dan berkata kepadanya, “Bayarlah zakat”.
Ibnu
Jamil bertanya, “Siapakah yang mengutusmu?”
“Rasulullah”,
jawab Umar.
Ibnu
Jamil berkata, “Aku tidak akan membayarnya”.
Kemudian
pulanglah Umar dengan membawa harta zakat yang telah terkumpul. Dia berkata,
seluruh kaum muslimin telah membayar zakat, kecuali tiga orang, yaitu Abbas,
Khalid bin Walid dan Ibnu Jamil yang tidak mau membayar zakat.
Rasulullah
bersabda, “Wahai Umar, tidakkah kau tahu bahwa Abbas adalah pamanku? Akulah
yang membayar zakatnya untuk dua tahun. Zakatnya menjadi kewajibanku untuk
membayarnya untuk dua tahun, sebab aku telah meminjam uang zakat darinya untu
dua tahun.
Rasulullah
Saw. melanjutkan, “Ada pun Khali bin Walid, kalian telah berbuat zalim
kepadanya. Dia telah mewakafkan seuruh perbekalan dan perlengkapan perang
miiknya di jalan Allah”.
Beliau
berata lagi, “Semua telah tergadai dan menjadi wakaf di jalan Allah. Apakah
dalam harta wakaf terdapat kewajiban membayar zakat? Wahai Umar, mengapa engkau
meminta zakat darinya, padahal dia telah mewakafkannya”.
Jika
Khalid bin walid hendak pergi berperang, dia memanggil seratus orang pasuan
berkuda dan memberi mereka seratus pedang, seratus tombak, serta seratus ekor
kuda perang, semua itu dijadikan sebagai wakaq untuk Allah. Oleh karenanya
anak-anaknya tidak dapat mewarisinya. Ketika Khalid wafat, dia tidak
meninggalkan harta, kecuali baju yang dia pakai.
Khalid
telah mengikuti seratus kali peperangan, tidak ada sejengkal pun dari tubuhnya
kecuali dipenuhi luka, baik luka akibat tusukan tombak, tebasan pedang, mau pun
anak panah. Sentara Khalid telah mengorbankan ar mata, darah, dan waktunya
untuk Islam, lantas apa yang kita tlah persembahkan untuk Islam?
Tatkala
Khalid meninggalkan medan perang (pensiun) dari bertempur pada usia senjanya,
dia mengambil sebuah mushaf dan membacanya dimulai setlah shalat subuh hingga
tiba waktu shalat dzuhur, sambil menangis, dia berkata. “Jihad telah
menyibukkanku dari membaca Al-Qur’an”. Namun Khalid bin Walid walaupun tidak
membaca Al-Qur’an tetapi dia telah menjalankan isi Al-Quran.
Tatkala
sakratul maut menjemput Khalid, dia berkata, “Aku telah mengarungi seratus
peperangan, dan sekarang aku mati di atas kasurku, seperti matinya unta, maka
mata para pngecut pun tidak dipejamkan. Hari ini para pengecut berbahagia
dengan kematianku”.
2.3.
Akhlak Usman bin Affan
Usman
bin Affan adalah Sahabat Nabi yang memiliki banyak julukan. Ia dijuluki
Dzunnurain karena menjadi suami dari dua putri Nabi, Ruqayyah dan Ummi Kulsum.
Ia dijuluki Dzulhijrotain karena pernah dua kali melakukan hijrah yaitu ke
Habasyah (sekarang Ethiopia) dan Madinah. Ia juga salah satu Khalifah dari
empat Khulafaurrasyidin. Usman lahir pada tahun 577 M atau tahun 47 sebelum
hijrah. Ia berasal dari keturunan bangsawan klan Bani umayah yang merupakan
bagian dari suku Quraisy.
Di
bawah kepemimpinan Khalifah Usman, imperium Islam meluas sampai Farsi (sekarang
Iran) pada tahun 650 M, kawasan Khurasan (sekarang Afghanistan) pada tahun 651,
dan penaklukan Armenia yang dimulai pada tahun 640-an.
Usman
masuk Islam pada usia sekitar 34 pada tahun 611 M. Pada saat itu ia baru saja
kembali dari perjalanan bisnis ke Suriah. Usman mendengar kabar bahwa Nabi
Muhammad baru saja kembali mendeklarasikan kerasulannya. Setelah berdiskusi
dngan temannya Abu Bakar, Usman memutuskan untuk masuk Islam. Abu Bakar pun
lalu membawanya menghadap Nabi untuk menyatakan keimanannya. Dengan demikian, maka
ia menjadi salah satu muslim yang paling awal masuk Islam setelah Ali bin Abu
Thalib, Zaid bn Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khadijah binti Khuwalid, dan
lainnya. Keislamannya membuat marah klan Bani Umayah yang sangat menentang
ajaran Islam yang dibawa Muhammad.
Nabi
Muhammad sudah menikahkan putrinya Rqoyah dengan Utbah bin Abu Lahab, sedangkan
putri satunya, Umm Kulsum, dinikahkan dengan anak Abu Lahab yang lain bernama
Utaibah bin Abu Lahab. Ketiha turun surah Al-Lahab dan istinya memerintahkan pada
kedua putranya untuk menceaikan putri Nabi. Maka, kedua putri Nabi bercerai
dengan kedua anak Abu Lahab. Menurut Rsyid Ridha (dalam Dzunnurain Usman bin
Affan, hlm.12) perceraian keda putri Nabi dengan kedua anak Abu Lahab itu
sebelum terjadinya hubngan intim. Ketika Usman mendengar beita perceraian
Ruqoyah, a pun segera menghadap Rasulullah untuk melamarnya yang diterima oleh
Nabi dengan senang hati.
Bersama
Ruqyah inilah Usman hijah ke Hanasyah (sekarang Ethiopia) antara tahun 614
sampai 615 Masehi bersama 11 laki-laki dan 11 perempuan muslim. Karena ia sudah
memiliki kontak bisnis di Habasyah, masa setahun di negeri Raja Najasyi ni ia
gunakan untuk menjadi pengusaha yang cukup sukses. Ia kembali ke Makkah. Di
Makkah ia tinggal selamanya sekitar tahun
sebelum ia hijrahke Madinah pada tahun 622 Masehi bersama istrinya Ruqayah.
Usman
adalah seorang pengusaha kaya dan ia membawa seluruh hartanya ke Madinah. Di
kota Madinah in, kaum Anshar umumya adalah petani. Sedangkan perdagangan
didominasi oleh kaum Yahudi. Usman meneruskan insting bisnisnya menjadi seorang
pengusaha jujur dan sukses di Madinah dan menjadi salah satu Sahabat terkaya.
Walaupun
kaya, Usman tetap bepola hidup sederhana. Dan kesederhanaan umumnya berbanding
lurus dengan kedermawanan. Artinya, orang kaya yang sederhana umumnya tidak
pelit pada sesama. Itu juga yang terjadi pada Usman. Sebagai contoh, ketika Ali
bin Abi Thalib akan menikahi Fatimah putri Nabi, Usman membeli pakaian perang
Ali seharga 500 dirham. 400 dirham digunakan Ali Untuk mas kawin, sedangkan
yang 100 untuk biaya lain. Tidak lama kemudian, Usman mengembalikan baju perang
Ali itu sebagai kado pernikahan.
Ruqayah
wafat pada tahun kedua hijrah atau 624 Masehi dalam usia 22 tahun. Setahun
kemudian, pada bulan Rabiul Awal tahun ketiga hijrah bertepatan dengan tahun
625 Masehi, Rasulullah menikahkan Usman dengan Ummi Kulsum, adik dari Ruqayah.
Pernikahan ni adalah perintah langsung dari Allah. Nabi bersabda: Telah datang
malaikat Jibril dan berkata “Allah memerintahkanmu agar menikahkan Usman dengan
Ummi Kulsum.” Inilah yang membuat Usman mndapat julukan Dzunnurain atau pemilik dua cahaya. Hanya enam tahun 631 Masehi.
Usman
bin Affan adalah sosok sahabat yang patut menjadi teladan karena beberapa hal,
pertama, ia adalah salah satu sahabat yang memiliki deajat istimewa dalam
pandangan Allah dan Rasul-Nya. Terbukti ia menjadi menantu dari dua putri Nabi.
Bahkan, pernikahan dengan putri kedua Nabi langsung atas perintah Allah. Pada
waktu yang sama ia adalah deorang pengusaha sukses sehingga ia termasuk salah
satu sahabat terkaya. Artinya, sorang pengusaha sukses dan hartawan tidak
menjadi seorang mukmin yang berkualitas tinggi di dunia dan akhirat.
Kedua,
kaya atau miskin seseorang tidak ada hubungannya dengan kualitas ketakwaan. Orang
kaya bisa lebih kuat imannya dari pada orang miskin atau sebaliknya, tergantung
dari bagaimana seorang muslim menyikapi ujian harta yang berlimpah dan
menghadapi musibah kemiskinan yang diserita.
Ketiga,
bahwa harta dunia yang berlimpah itu mulia di sisi Allah apabila melalui proses
yang halal dalam mendapatkannya, tidak merubah gaya hidup seseorang menjadi
hedonis dan konsumtif, dan sebagian harta itu digunakan untuk kemanfaatan dan
kemaslahatan umat.
a.
Kisah Usman bin Affan
Membeli Surga
Cara
masuk surga itu banyak, diantaranya adalah:
1. Shalat
dua rakaat dengan khusyu’ di tengah malam;
2. Perkataan
yang benar, menolong orang yang terzalimi dan mencegah orang berbuat zalim;
3. Berpuasa
pada hari yang sangat terik/ panas;
4. Senyuman
ikhlas kepada semua orang;
5. Usapan
telapak tangan yang penuh kasih sayang di kepada anak yatim.
Usman
bin Affan membeli surga dengan membeli mata air tawar dan memberikan kepada
masyarakat untuk diminumnya dan ketika membiayai pasukan perang Jaisyu ‘Usrah pada perang Tabu. Inilah
yang disebut membeli surga dengan perniagaan.
2.4.
Akhlak Ali bin Abi Thalib
Ali
bin Abu Thalib adalah sepupu Nabi Muhammad. Namun kedekatan keduanya jauh dari
hanya sebatas hubungan kekerabatan. Sejak Ali lahir pada 17 Maret 600 Masehi
yang bertepatan dengan tanggal 13 Rajab tahun 23sebelum hijrah, ia tinggal
dalam rumah yang sama dengan rumah yang pernah ditempati Nabi selama 42 tahun.
Yakni rumah Abu Thalib yang merupakan ayah angkat Rasulullah. Nabi Muhammad,
yang lahir pada tahun 570 Masehi, sudah berusia 31 tahun pada saat Ali lahir ke
dunia sehingga Ali tidak sempat tinggal serumah karena Nabi sudah hidup bersama
istrinya, Khadijah Al-Kubro. Namun demikian, hubungan keduanya semakin dekat
karena pada usia 5 atau 6 tahun nabi meminta Abu Thalib agar Ali diperkenankan
untuk hidup bersamanya. Sejak saat itu, jadilah Ali anak asuh Nabi Muhammad.
Penyebab Nabi mengambil alih pengasuhan Ali karena pada saat itu Makkah sedang
ditimpa musim paceklik yang parah dan Abu Thalib mengalami kesulitan ekonomi. Dari
situlah Nabi berinisiatip untuk menjadikan Ali sebagai anak asuhnya. Sedangkan
putra Abu Thalib yang bernama Ja’far diasuh oleh pamannya yaitu Abbas bin Abdul
Muttalib.
Sejak
hidup bersama Nabi dalam satu rumah, Ali selalu bersama Nabi kemanapun pergi.
Dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam disebutkan
Ali sering mengikuti Nabi ke Gua Hira’ untuk beribadah dan shalat. Disebutkan
juga bahwa Ali tidak pernah menyembah berhala selama hidupnya. Itulah sebabnya
umat Islam selalu mendoakannya dengan “karromallohu
wajhah”, semoga Allah memuliakan wajahnya, setiap kali namanya disebut.
Menurut pendapat lain, doa tersebut disebabkan karena ia tidak pernah melihat
aurat orang lain sama sekali.
Dengan
jiwa yang bersih tanpa ada noda syirik, iri dan dengki, maka mudah bagi Ali
untuk menerima kebenaran Islam. Tak heran apabila Ali menjadi salah satu dari
tiga tokoh yang pertama masuk Islam di samping Khadijah Al-Kubro dan Abu Bakar
Ash-shiddiq serta menjadi satu-satunya anak remaja yang masuk Islam pertama
kali saat Nabi mulai menyebarkan Islam pada kalangan kerabat dekatnya dari Bani
Hasyim.
Sejak
keislamannya, Ali menjadi salah satu pengikut Nabi yang sejak awal rela
mengorbankan jiwa dan raganya demi tegaknya agama Islam dan keselamatan
Rasul-Nya. Misalnya, pada hari dimana Nabi berniat hijrah ke Madinah, dan
sejumlah pembesar Quraish bersekongkol untuk membunuh Nabi, Ali dengan tulus
dan berani menggantikan Nabi di tempat tidurnya sementara Nabi menyelinap
diam-diam keluar rumah bersama Abu Bakar menempuh perjalanan panjang ke kota
Yatsrib yang kemudian dikenal dengan Madinah. Saat itu ali baru berusia 22
tahun. Tiga hari kemudian, Ali menyusul Nabi ikut hijrah ke Madinah.
Pada
bulan Shafar tahun kedua hijrah saat usianya yang ke-24, Ali menikah dengan
Fatimah Az-Zahra putri Nabi. Ini adalah pernikahan pertama dan terakhir bagi
Ali karena ia tidak pernah menikah dengan wanita lain selama hidupnya. Banyak
Sahabat yang ingin menikahi Fatimah. Namun, Nami selalu menolak lamaran mereka.
Dalam sebuah hadits riwayat Thabrani Nabi bersabda bahwa perjodohan Ali dan
Fatimah adalah perintah Allah. Ali menikahi Fatimah dengan mahar sebuah naju
perang yang sederhana. Seperti diketahui, Ali adalah sepupu Nabi. Dengan
demikian, Ali menikah dengan keponakan sepupunya sendiri. Dalam Islam, menikah
dengan kerabat yang ada hubungan sepupu ke atas tidak dilarang karena mereka
tidak termasuk mahram (yang haram dinikah). Dari pernikahan ini keduanya
memperoleh lima orang putra yaitu Hasan dan Husain pada tahun ketiga dan
keempat hijrah secara berturut-turut dan dengan kelahiran Zainab, Ummu Kulsum
dan Muhsin. Putra terakhir yang bernama Muhsin meninggal di masa kecil.
Jasa-jasa
Ali pada Islam tak terhitung jumlahnya. Beberapa yang paling fenomenal adalah
menjabat sebagai Khalifah keempat Islam, berperan dalam proses pembukuan
Al-Quran sejak zaman Nabi, utusan Nabi berkirim surat pada beberapa kabilah
agar masuk Islam dan berhasil mengislamkan sejumlah Kabilah, mengikuti hampir
seluruh peperangan (ghazwah) jihad melawan orang kafir kecuali perang Tabuk.
Ali juga menjadi figur rujukan di kalangan ulama karena kedalaman ilmunya.
Di
tengah semua kelebihan dan keistimewaannya, Ali tetap mejaga hidup sederhana
dan memilih hidup zuhud. Inilah salah satu sebab mengapa ia juga menjadi
rujukan utama kalangan pengikut tasawuf.
a.
Kisah Ali bin Abi
Thalib dengan Seorang Yahudi
Demikian
juga kisah Ali bin Abi Thalib dengan Seorang Yahudi yang sangat-sangat tidak
pernah lagi ditemukan dalam kehidupan para pemimpin kita. Sebagai contoh
adalah. “Ali bin Abi Thalib pada saat menjabat khalifah, dia mengadukan seorang
Yahudi karena mengambil Baju Besinya. Ketika perkara ini dibawa ke pengadilan.
Hakim Syuraih bertanya kepada Amirul Mukminin. Wahai Ali (Amirul Mukminin), apa
saja tanda-tanda yang dapat menyatakan bahwa baju ini milikmu dan tolong
hadirkan beberapa orang saksi untuk memperkuat pendapat anda bahwa baju besi
ini adalah milikmu. Namun Ali tak sanggup membuktikannya semua itu sehingga
hakim Syuraih memutuskan bahwa baju besi itu adalah milikmu wahai Yahudi.
Kemudian
Yahudi itu berkata kepada Hakim. Wahai tuan hakim, Anda telah memutuskan
perkara dengan adil. Dan saya mengucapkan “Asyhadu Anla Ilaha Illallah, wa
Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”. Inilah praktik keadilah yang pernah
dipraktikkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib di masa pemerintahannya. Jika ada
para pemimpin umat Islam yang dapat melakukan keadilan semacam ini, mungkin
kedamaian dan ketenteraman akan terjadi dimana-mana, rezeki akan melimpah,
keberkahan akan dirasakan oleh manusia, dan bala bencana akan dijauhkan oleh
Allah Swt.
Itulah
keadilan Islam yang jika benar-benar dilaksanakan, maka berbagai kebaikan
muncul dan berbagai kemenangan akan diperoleh. Oleh karena itu, berlaku jujur
dan adillah Anda dalam setiap keputusan.
BAB
III
KESIMPULAN
3.1.
Kesimpulan
Rasulullah
Saw mengajarkan bagaimana berakhlak yang mulia, beliau mengajarkan kepada para
sahabatnya. Rasulullah dan sahabat yang diantaranya yaitu Abu Bakar As-Siddiq,
Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib dapat kita jadikan
sebagai suri tauladan dalam setiap tindakan kita. Untuk menjadi muslim yang
berakhlak mulia dapat mencontoh perilaku para sahabat Rasul yang memiliki
akhlak mahmudah.mereka mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama, menjadi
pemimpin yang baik, kesetiaan, kejujuran, ketegasan, dan banyak hal baik
lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman,
Muhammad. 2016. Akhlak: Menjadi Seorang
Muslimah Berakhlak Mulia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Syuhud,
Fatih. 2015. Meneladani Akhlak Rasul dan
Para Sahabat. Malang: Pustaka
Al-Khoirot.Umary,
Barmawi. 1989. Materi Akhlak. Solo:
CV Ramdhani.

Comments
Post a Comment