PERANAN KEKUASAAN DAN POLITIK DALAM PENGEMBANGAN ORGANISASI

sumber gambar : google

PERANAN KEKUASAAN DAN POLITIK DALAM PENGEMBANGAN ORGANISASI

Kelas : Administrasi Publik/V/G

Abstrak
Kekuasaan dan politik merupakan fakta kehidupan sosial dan organisasi yang tidak dapat disangkal lagi, yang harus dipahami apabila orang menghendaki keberhasilan dalam organisasi.Praktisi pengembangan organisasi memerlukan kesadaran dan kecakapan prilaku dalam arena kekuasaan dan politik.Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita sering mendengar kata kekuasaan dan politik.
Nilai-nilai pengembangan organisasi itu sesuai dengan segi positif kekuasaan, tetapi tidak sesuai dengan segi negatif kekuasaan.Nilai-nilai seperti kepercayaan, keterbukaan, kerjasama, martabat perseorangan, dan peningkatan kemampuan perseorangan dan organisasi merupakan bagian dari dasar pengembangan organisasi.Tujuan penulisan studi literature ini adalah untuk menjelaskan peranan kekuasaan dan politik dalam pengembangan organisasi.
Pengembangan organisasi mengarahkan persoalan kekuasaan dan politik dalam hal yang diusulkan bahwa kerjasama, dan pemecahan masalah bersama merupakan cara-cara yang lebih baik untuk mencapai sesuatu dalam organisasi ketimbang hanya mengandalkan perundingan dan politik.Hakikat pengembangan organisasi dalam hubungannya dengan kekuasaan dan politik dapat disimpulkan dari beberapa sumber– strategi perubahannya, intervensinya, nilai-nilainya, dan peranan para praktisi pengembangan organisasi.

Kata Kunci:Kekuasaan, Politik, Perubahan Organisasi.



       I.            Latar Belakang
Kekuasaan dan politik merupakan fakta kehidupan sosial dan organisasi yang tidak dapat disangkal lagi, yang harus dipahami apabila orang menghendaki keberhasilan dalam organisasi.Praktisi pengembangan organisasi memerlukan kesadaran dan kecakapan prilaku dalam arena kekuasaan dan politik.Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita sering mendengar kata kekuasaan dan politik. Kedua kata ini sering dihubungkan satu sama lain. Namun, untuk memahami tentang apa itu kekuasaan dan politik, serta apa hubungan di antara keduanya, memerlukan pembahasan yang luas dan rinci. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam mengartikan dan menggunakannya. Jika kita melakukan sesuatu tanpa ilmu, kita bisa mencelakakan diri kita sendiri, bahkan orang lain. Begitu pula dengan kekuasaan dan politik.Di Negara Republik Indonesia ini, tidak sedikit yang memandang bahwa kekuasaan dapat diperoleh melalui politik. Atau dengan kata lain, politik adalah jalan untuk mencapai kekuasaan. Pandangan seperti itulah yang menyebabkan begitu banyak orang mendalami dunia politik hanya demi mendapatkan kekuasaan. Banyak orang yang mengejar kekuasaan tanpa memahami apa sesungguhnya dan bagaimana cara menggunakan kekuasaan yang dimilikinya. Dan banyak orang pula yang akhirnya menganggap bahwa politik itu sesuatu yang tidak baik.Untuk itu, pemahaman yang benar mengenai kekuasaan dan politik sangatlah penting.
Pengembangan organisasi adalah suatu pendekatan khusus yang sangat mengandalkan intervensi ilmu perilaku, pemecahan masalah bersama secara sistematik, dan manajemen kerja sama dari kebudayaan dan proses-proses organisasi. Perubahan organisasi sering berlawanan dengan nilai-nilai yang menghormati anggota dalam organisasi. Banyak sumber  perubahan keorganisasian yang mendiskusikan tentang perubahan yang diperlukan di dalam kultur organisasi, mencakup perubahan di dalam kepercayaan dan nilai-nilai anggota serta dalam cara menempatkan kepercayaan dan nilai-nilai tersebut. Perubahan dapat terjadi begitu saja tanpa direncanakan, akan tetapi ada perubahan yang memang dikelola atau direncanakan.
Nilai-nilai pengembangan organisasi itu sesuai dengan segi positif kekuasaan, tetapi tidak sesuai dengan segi negatif kekuasaan.Nilai-nilai seperti kepercayaan, keterbukaan, kerjasama, martabat perseorangan, dan peningkatan kemampuan perseorangan dan organisasi merupakan bagian dari dasar pengembangan organisasi.Tujuan penulisan studi literature ini adalah untuk menjelaskan peranan kekuasaan dan politik dalam pengembangan organisasi dengan menggunakan metode studi literatur yakni studi kepustakaan.

    II.            Metode 
Metode yang digunakan adalah studi literatur yakni studi kepustakaan.Dimana menurut Hasan (2002) studi kepustakaan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu : (1) Mengetahui jenis pustaka yang dibutuhkan yakni yang berkaitan dengan komitmen dalam perubahan organisasi. (2) Mengkaji dan mengumpulkan bahan pustaka. (3) Menyajikan studi kepustakaan.
Dalam metode ini juga penulis menggunakan beberapa jurnal yang dimuat dalam beberapa situs dengan jumlah 5 jurnal yaitu : (1) Edduar Henri; 2011; Peranan Kekuasaan dan Politik dalam Praktik Pengembangan Organisasi, (2)Sunaryo; 2017; Pengaruh Perubahan Organisasi, Budaya Organisasi Dan Perilaku Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Di PT. Sisirau Medan, (3) Siswanto (Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI, Surabaya); 2007; Politik Dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik), (4) Hendra Gunawan (Alumni Jurusan Manajemen Universitas Kristen Maranatha Bandung) dan T. Elisabeth Cintya Santosa (Staf Pengajar Akademi Entrepreneurship Terang Bangsa Semarang); 2012; Politik Or ganisasi Dan Dampaknya Terhadap Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, Kinerja Dan Organizational Citizenship Behavior (OCB), (5)Maria Merry Marianti; 2011; Kekuasaan dan Taktik Mempengaruhi Orang Lain Dalam Organisasi.

 III.            Pembahasan
1.     Kekuasaan
Menurut Ramlan Surbakti dalam Edduar Henri (2011) Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002) atau Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).  
Menurut Maria Merry Marianti (2011) aspek yang paling menentukan besar atau kecilnya kekuasaan adalah tingkat ketergantungan. Ketergantungan (dependency) adalah hal yang paling utama untuk lebih meningkatkan pemahaman kita akan kekuasaan (power). Kekuasaan Berdasarkan Kedudukan memiliki pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi terdiri dari: Kewenangan Formal dan Kekuasaan Pribadi. 
Kewenangan Formal, yaitu kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif, kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial. (b)Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan, merupakan kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengan kedudukan formal.Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi, makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. (b)Kontrol terhadap hukuman merupakan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan. (c)Kontrol terhadap informasi menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. (d)Kontrol ekologis menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik, teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan.
Kekuasaan pribadi menjelaskan bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarki mempunyai kedudukan dalam organisasi. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu terdiri dari: Kekuasaan keahlian (expert power), Kekuasaan kesetiaan (referent power), dan Kekuasaan karisma. (a)Kekuasaan keahlian (expert power) merupakan kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugas-tugas penting. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang, semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut. (b) Kekuasaan kesetiaan (referent power) merupakan potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi, seperti pesona, kebijaksanaan, diplomasi dan empati. (c)Kekuasaan karisma merupakan sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan, karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu.
Siswanto (2007) terlihat bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarkis mempunyai kedudukan dalam organisasi. Seorang manajer akan mempunyai kekuasaan kedudukan paling besar karena ia mampu memainkan keseluruhan sumber-sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan. Posisi di bawah manajer, seperti kepala bidang atau kepala bagian akan menguasai sumber kekuasaan tertentu lebih banyak daripada sumber kekuasaan lainnya sesuai tugas dan fungsinya.

2.     Politik
Dhal (1957) dalam Edduar Hendri (2011) menyatakan politik adalah aktifitas untuk mendapatkan, mengembangkan, menggunakan kekuasaan dan sumber-sumber lannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan dalam situasi dimana adanya ketidakpastian atau adanya ketidaksepakatan tentang suatu pilihan. Politik didefinisikan sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali, pengaruh, kekuasaan dan kewenangan”.
Karl Albrecht (1983) dalam jurnal Edduar Hendri (2011) memberikan pemahaman bahwa suatu organisasi akan dipengaruhi factor-faktor politis internal yang berkaitan dengan budaya organisasi dan gaya manajemen. Faktor-faktor politis yang dimaksud Albrecht merupakan iklim politik organisasi yang pada prinsipnya juga mempengaruhi iklim organisasi secara keseluruhan. Elemen Politik internal Organisasi yaitu actor-faktor internal dalam organisasi, kultur, dan gaya manajemen, yang mempengaruhi para pengambil keputusan dalam melaksanakan fungsi manajemennya. Politik keorganisasian adalah serangkaian tindakan yang secara formal tidak diterima dalam suatu organisasi dengan cara mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan individu (Greenberg dan Baron, 1997).   Kreitner (2006) menjelaskan factor-faktor utama yang menyebabkan munculnya perilaku berpolitik adalah ketidakpastian dalam organisasi : tujuan tidak jelas, ukuran prestasi dan kinerja tidak terstandar, proses pembuatan keputusan tidak terdefinisi dengan baik, kompetisi antar individu dan kelompok tinggi, dan perubahan.
Menurut Hendra & T.Elisabeth (2012), Politik organisasi merupakan tindakan yang tidak secara formal dibuktikan dalam organisasi, dilakukan dengan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan perorangan (Drory & Romm, 1990; dalam Greenberg & Baron, 1997; dalam Wulani, 2004). Orang cenderung untuk mempengaruhi individu lain dan organisasi dalam setiap tindakan atau perilakunya, misalnya: seorang manajer mempengaruhi karyawan untuk tujuan meningkatkan kinerja dan keuntungan baik bagi kepentingannya maupun bagi kepentingan organisasi. Perilaku politik dalam organisasi merupakan aktivitas yang tidak dibutuhkan sebagai bagian dari peran formal seseorang dalam organisasi.Tetapi, perilaku politik organisasi berpengaruh atau merupakan usaha mempengaruhi distribusi peningkatan atau pengurangan sumber-sumber dalam organisasi.Politik organisasi juga digambarkab sebagi seni menggunakan pengaruh, kewenangan, dan kekuasaan untuk mencapai tujuan organisasinya.

3.     Perubahan Organisasi
Djohanputro (2004:34) dalam Sunaryo (2017) menyebutkan bahwa perubahan organisasi merupakan penyusunan ulang komposisi manajemen, struktur organisasi, pembagian kerja, sistem operasional dan hal-hal lain tertentu yang berkaitan dengan masalah manajerial dan keorganisasian.
Perubahan organisasi mempunyai manfaat bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, karena tanpa adanya perubahan dapat dipastikan usia organisasi itu tidak akan bertahan lama. Perubahan organisasi bertujuan agar organisasi tidak menjadi statis dengan kemajuan teknologi.Tujuan utama dari terjadinya perubahan adalah untuk meningkatkan kemampuan organisasi dan semua orang yang ada di dalam organisasi, yang pada gilirannya tercermin dalam peningkatan kemampuan organisasi secara keseluruhan.
Menurut Siagian (2003:21) menyatakan tujuan perubahan organisasi adalah sebagai  berikut : 1. Meningkatkan kemampuan organisasi untuk menampung dampak dari perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang yang terjadi di luar organisasi 2. Meningkatkan peranan organisasi dalam menentukan arah perubahan yang mungkin terjadi 3.Melakukan penyesuaian-penyesuaian secara intern demi peningkatan kemampuan 4. Meningkatkan daya tahan organisasi, bukan saja mampu tetap bertahan akan tetapi juga untuk terus bertumbuh dan berkembang. 5. Mengendalikan suasana  kerja sedemikian rupa sehingga para anggota organisasi tetap merasa aman dan terjamin meskipun terjadi perubahanperubahan di dalam dan diluar organisasi.

4.     Peranan Kekuasaan dan Politik dalam Perubahan Organisasi
Menurut Hendra dan T Elisabeth (2012) Perilaku politik dalam organisasi merupakan aktivitas yang tidak dibutuhkan sebagai bagian dari peran formal seseorang dalam organisasi.Tetapi, perilaku politik organisasi berpengaruh atau merupakan usaha mempengaruhi distribusi peningkatan atau pengurangan sumber-sumber dalam organisasi.Politik organisasi juga digambarkab sebagi seni menggunakan pengaruh, kewenangan, dan kekuasaan untuk mencapai tujuan organisasinya.
Menurut Edduar Hendri (2011) Pengembangan organisasi ditemukan berdasarkan kepercayaan bahwa dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan prilaku untuk meningkatkan pemecahan masalah kerja sama akan meningkatkan keefektifan organisasi dan kesejahteraan perseorangan. Kepercayaan ini menimbulkan bidang dan merupakan dasar pikiran yang mendasari teknologinya.Untuk meningkatkan pemecahan masalah bersama adalah dengan meningkatkan segi positif kekuasaan dan menurunkan segi negatif kekuasaan.Dengan demikian, sejak permulaan pengembangan organisasi mengarahkan persoalan kekuasaan dan politik dalam hal yang diusulkan bahwa kerjasama, dan pemecahan masalah bersama merupakan cara-cara yang lebih baik untuk mencapai sesuatu dalam organisasi ketimbang hanya mengandalkan perundingan dan politik.Hakikat pengembangan organisasi dalam hubungannya dengan kekuasaan dan politik dapat disimpulkan dari beberapa sumber–strategi perubahannya, intervensinya, nilainilainya, dan peranan para praktisi pengembangan organisasi.
Nilai-nilai pengembangan organisasi itu sesuai dengan segi positif kekuasaan, tetapi tidak sesuai dengan segi negatif kekuasaan.Nilai-nilai seperti kepercayaan, keterbukaan, kerjasama, martabat perseorangan, dan peningkatan kemampuan perseorangan dan organisasi merupakan bagian dari dasar pengembangan organisasi. Nilainilai ini adalah sama dengan pemecahan masalah secara rasional dan tidak sama dengan cara-cara pelaksanaan polotis yang eksterm. “Penyamaan kekuasaan” telah lama digambarkan sebagai salah satu nilai pengembangan organisasi, dan itu benar. Akan tetapi, tekanan pada penyamaan kekuasaan berasal dari dua kepercayaan : pertama, pemecahan masalah biasanya lebih unggul ketimbang paksaan kekuasaan sebagai suatu cara untuk mendapatkan pemecahan-pemecahan terhadap situasi-situasi problematik; kedua, penyamaan kekuasaan, sebagai suatu aspek dari segi positif kekuasaan, meningkatkan jumlah kekuasaan yang ada bagi anggota-anggota, dan dengan demikian menambah kekuasaan bagi organisasi.
Peranan para praktisi pengembangan organisasi adalah sebagai fasilitator, katalisator, pemecah masalah, dan pendidik.Praktisi pengembangan organisasi itu bukan seorang aktivis politis atau seorang perantara kekuasaan. Menurut Chris Argyris, “orang yang melakukan intervensi” mempunyai tiga tugas utama : (1) menghasilkan informasi yang berguna dan sah, (2) meningkatkan pilihan bebas dan yang dipupuk dengan penerangan-penerangan, dan (3) membantu meningkatkan tanggung jawab intern dari klien terhadap pilihanpilihan yang telah dibuat.
Praktisi pengembangan organisasi bekerja untuk menambah kecakapan dan pengetahuan dalam organisasi.Akan tetapi, anggota organisasi bebas untuk menerima atau menolak program, dan nilai-nilai, metode-metode, dan keahlian praktisi.Konsultan pengembangan organisasi, seperti halnya semua konsultan lainnya, memberikan suatu jasa dan organisasi bebas untuk “menerima” atau “menolak”. Peranan fasilitator atau pendidik tidak sama memerlukan serangkaian perilaku dan persaingan memerlukan serangkaian perilaku yang berlainan, seperti yang terlihat dalam pragraf sebelum ini. Cobb dan Margulies memperingatkan bahwa para praktisi pengembangan organisasi dapat menjumpai kesulitan apabila mereka pindah dari peranan fasilitator ke peranan politis.Kita yakin itu adalah benar.
Singkatnya, pengembangan organisasi menunjukkan suatu pendekatan dan metode untuk memungkinkan anggota-anggota organisasi berjalan di luar segi negatif kekuasaan dan politik.Ini merupakan suatu kekuatan pengembangan organisasi yang besar, dan ini berasal dari strategi perubahan yang digunakan, teknologi pengembangan organisasi, dan nilai-nilai serta peranan-peranan dari para praktisi pengembangan organisasi.

5.     Penelitian terdahulu
Dalam penulisan studi literatur ini mengacu pada penelitian yang sudah dilakukan peneliti lain. Jurnal pertama yang digunakan oleh penulis yaitu jurnal yang ditulis oleh Edduar Hendri, Dosen Tetap FE Univ-PGRI Plg; 2011 yang berjudul Peranan Kekuasaan dan Politik dalam Praktik Pengembangan Organisasi. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui Bagaimana Hakikat Pengembangan Organisasi dalam Hubungannya dengan Kekuasaan dan Politik serta Pelaksanaannya dalam Suatu Lingkungan Politis.Metode yang digunakan yaitu metode studi kepustakaan. Teori yang digunakan salah satunya yaitu Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi (Ramlan Surbakti,1992). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu Pengembangan organisasi ditemukan berdasarkan kepercayaan bahwa dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan prilaku untuk meningkatkan pemecahan masalah kerja sama akan meningkatkan keefektifan organisasi dan kesejahteraan perseorangan. Kepercayaan ini menimbulkan bidang dan merupakan dasar pikiran yang mendasari teknologinya.Untuk meningkatkan pemecahan masalah bersama adalah dengan meningkatkan segi positif kekuasaan dan menurunkan segi negatif kekuasaan.Dengan demikian, sejak permulaan pengembangan organisasi mengarahkan persoalan kekuasaan dan politik dalam hal yang diusulkan bahwa kerjasama, dan pemecahan masalah bersama merupakan cara-cara yang lebih baik untuk mencapai sesuatu dalam organisasi ketimbang hanya mengandalkan perundingan dan politik.Hakikat pengembangan organisasi dalam hubungannya dengan kekuasaan dan politik dapat disimpulkan dari beberapa sumber–strategi perubahannya, intervensinya, nilai-nilainya, dan peranan para praktisi pengembangan organisasi.
Jurnal kedua yaitu berjudul Pengaruh Perubahan Organisasi, Budaya Organisasi Dan Perilaku Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Di PT. Sisirau Medan, oleh Sunaryo, 2017. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan organisasi, budaya organisasi dan perilaku kerja terhadap kinerja, Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai dan pimpinan yang bekerja di PT Sisirau Medan yaitu sebanyak 80 orang responden. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel jenuh, dengan menggunakan seluruh populasi sebagai sampel yaitu sebanyak 80 orang.Data dikumpulkan dengan menggunakan observasi dan kuesioner.Selanjutnya dilakukan uji analisa data dengan menggunakan analisis regresi berganda, uji t, uji F dan koefisien determinasi.Hasil penelitian ini adalah Perubahan Organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, besarnya pengaruh perubahan organisasi terhadap kinerja pegawai sebesar 95.6%.Budaya Organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, besarnya pengaruh Budaya Organisasi terhadap kinerja karyawan adalah sebesar 71.2%.Perilaku Kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, besarnya pengaruh Perilaku Kerja terhadap kinerja karyawan sebesar 31.2%.Secara simultan Perubahan Organisasi, Budaya Organisasi, dan Perilaku Kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja karyawan di PT Sisirau Medan. Besarnya kemampuan Perubahan Organisasi, Budaya Organisasi, dan Perilaku Kerja dalam menjelaskan kinerja adalah sebesar 79.9% sedangkan sisanya sebesar 20.1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model penelitian ini. Argument penting pada karya tulis ini adalah mengenai Perubahan organisasi mempunyai manfaat bagi kelangsungan hidup suatu organisasi, karena tanpa adanya perubahan dapat dipastikan usia organisasi itu tidak akan bertahan lama. Perubahan organisasi bertujuan agar organisasi tidak menjadi statis dengan kemajuan teknologi.Tujuan utama dari terjadinya perubahan adalah untuk meningkatkan kemampuan organisasi dan semua orang yang ada di dalam organisasi, yang pada gilirannya tercermin dalam peningkatan kemampuan organisasi secara keseluruhan.
Jurnal ketiga yaitu yang ditulis oleh Siswanto (Puslitbang Sistem dan Kebijakan Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes RI, Surabaya): 2007 yang berjudul Politik Dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik). Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui politik dalam suatu organisasi.Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dikutip dari jurnal ini yaitu organisasi sebagai salah satu entitas sosial juga tidak terlepas dari politik. Setiap orang dalam organisasi akan menggunakan taktik dan strateginya masing-masing untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas, baik itu menyangkut distribusi informasi, kekuasaan, karir maupun penghargaan lainnya.Kesimpulan dari karya tulis ini adalah Untuk menjadi manajer yang efektif, keterampilan manajemen instrumental saja tidaklah cukup, namun harus dibarengi dengan kemampuan politik yang adekuat.Di dalam setiap kehidupan organisasi baik organisasi formal maupun informal selalu terdapat fenomena politik yang melibatkan kepentingan, kekuasaan dan pengaruh. Dalam proses mempengaruhi guna mengejar kepentingannya, setiap aktor akan saling memainkan sumber kekuasaannya untuk mempengaruhi aktor lainnya, sehingga apa yang terjadi tak ubahnya seperti permainan. Apapun taktik yang dipakai oleh aktor dalam rangka mempengaruhi aktor lain untuk mengejar kepentingannya selayaknya harus tetap dalam kerangka etika berorganisasi dengan tetap memegang the golden rule yaitu ”perlakukan orang lain sebagaimana kamu menginginkan orang lain memperlakukanmu” atau ”jangan lakukan sesuatu pada orang lain yang mana kamu tidak menginginkan orang lain melakukan hal itu kepadamu”.
Jurnal keempat  yaitu ditulis oleh Hendra Gunawan (Alumni Jurusan Manajemen Universitas Kristen Maranatha Bandung) dan T. Elisabeth Cintya Santosa (Staf Pengajar Akademi Entrepreneurship Terang Bangsa Semarang); 2012, dengan judul Politik Or ganisasi Dan Dampaknya Terhadap Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, Kinerja Dan Organizational Citizenship Behavior (OCB), Penelitian ini menggunakan data primer dengan responden para karyawan di 3 perusahaan tekstil yang berada di kota Bandung dan Kuisioner.Dalam penelitian ini, politik organisasi diukur dengan Perceptions of Organizational Politic Scale (POPS) yang dikembangkan oleh Kacmar & Ferris (1991; dalam Wulani, 2004) yang terdiri dari 12 item. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa politik organisasi yang dirasakan oleh karyawan dalam organisasi akan berdampak pada rendahnya komitmen karyawan. Hasil lain ditemukan bahwa politik organisasi tidak memiliki hubungan dengan kinerja, namun tetap berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Dengan kata lain, meskipun tidak terhadap hubungan, namun jika karyawan merasakan adanya politik dalam organisasi akan berdampak pada kinerja mereka. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Dalam penelitian ini, variabel kepuasan kerja tidak lolos dalam uji reliabiliats, dalam penelitian selanjutnya sangat disarankan untuk dapat menggunakan item-item dari peneliti lain atau menambah jumlah item, mengingat dalam penelitian ini hanya menggunakan 3 item saja. Implikasi dalam penelitian ini menyebutkan bahwa tingginya politik organisasi yang dirasakan oleh karyawan dalam organisasi berdampak pada rendahnya komitmen dan kinerja para karyawan.Politik organisasi memang diperlukan oleh organisasi karena dapat membantu dalam mencapai tujuan perusahaan, namun perlu pengelolaan yang tepat agar tidak menurunkan komitmen dan kinerja para karaywan.
Jurnal kelima yang digunakan yaitu pada tahun 2011, Maria Merry Marianti melakukan penelitian yang berjudul Kekuasaan dan Taktik Mempengaruhi Orang Lain Dalam Organisasi dengan tujuan agar pembaca memahami mengenai kekuasaan dan taktik mempengaruhi orang lain dalam suatu organisasi, teori yang digunakan yaitu Yukldkk,menunjukkan ada sembilan jenis taktik yang biasa digunakan di dalam organisasi (Hughes et all, 2009), yaitu: 1. Persuasi Rasional (Rational Persuasion), 2. Daya tarik Inspirasional(InspirationalAppeals), 3. Konsultasi (Consultation), 4. Mengucapkan kata-kata manis (Ingratiation), 5. Daya-tarik Pribadi (Personal Appeals), 6. Pertukaran (Exchange), 7. Koalisi (Coalitions), 8. Tekanan (Pressure), 9. Mengesahkan (Legitimacy). Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah Pengetahuan mengenai kekuasaan dan taktik mempengaruhi orang lain, sangat penting bagi setiap orang, terlebih lagi bagi para manajer atau pemimpin suatu organisasi. Dengan mengetahui sumber-sumber dan jenis-jenis kekuasaan, seseorang atau dapat meningkatkan ketergantungan orang lain kepadanya, atau mengurangi ketergantungan dirinya kepada orang lain. Dengan mengetahui cara atau taktik mempengaruhi orang lain, maka seseorang atau pemimpin dapat lebih efektif dalam mencapai tujuan yang diinginkannya. Biasanya orang akan lebih dapat menerima dan patuh pada orang yang mereka kagumi atau orang yang pengetahuannya dihargai, bukan pada orang yang mengandalkan posisinya untuk dapat mempengaruhi, maka penggunaan expert power dan/atau referent power secara efektif, akan dapat meningkatkan motivasi, kinerja, komitmen, dan kepuasan orang lain. Jadi sebaiknya setiap orang, terlebih lagi para manajerataupemimpinsuatuorganisasi,mengembangkandanmenggunakan”expert power” sebagai dasar untuk meningkatkan kekuasaannya. Taktik-taktik mempengaruhi adalah cara-cara yang biasanya digunakan oleh seseoranguntukmempengaruhioranglain,baikorangyangmerupakanatasan,rekan setingkat, atau bawahannya. Dengan mengetahui dan menggunakan hal ini, maka seseorang dapat mempengaruhi orang lain, dengan tidak menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.

  IV.            Kesimpulan
Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi. Politik didefinisikan sebagai “setiap pola hubungan yang kokoh antarmanusia dan melibatkan secara cukup mencolok kendali, pengaruh, kekuasaan dan kewenangan”
Pengembangan organisasi ditemukan berdasarkan kepercayaan bahwa dengan menggunakan metode ilmu pengetahuan prilaku untuk meningkatkan pemecahan masalah kerja sama akan meningkatkan keefektifan organisasi dan kesejahteraan perseorangan. Kepercayaan ini menimbulkan bidang dan merupakan dasar pikiran yang mendasari teknologinya.Untuk meningkatkan pemecahan masalah bersama adalah dengan meningkatkan segi positif kekuasaan dan menurunkan segi negatif kekuasaan.Dengan demikian, sejak permulaan pengembangan organisasi mengarahkan persoalan kekuasaan dan politik dalam hal yang diusulkan bahwa kerjasama, dan pemecahan masalah bersama merupakan cara-cara yang lebih baik untuk mencapai sesuatu dalam organisasi ketimbang hanya mengandalkan perundingan dan politik.Hakikat pengembangan organisasi dalam hubungannya dengan kekuasaan dan politik dapat disimpulkan dari beberapa sumber– strategi perubahannya, intervensinya, nilai-nilainya, dan peranan para praktisi pengembangan organisasi.

Daftar Pustaka
Hendri, Edduar. 2011. Peranan Kekuasaan dan Politik dalam Praktik Pengembangan Organisasi.http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=344316&val=6291&title=Peranan%20Kekuasaan%20dan%20Politik%20Dalam%20Praktik%20Pengembangan%20Organisasi. Diakses pada tanggal 10 Desember 2018 pukul 10.30WIB.

Sunaryo. 2017.Pengaruh Perubahan Organisasi, Budaya Organisasi Dan Perilaku Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Di PT. Sisirau Medan. http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/mbisnis/article/view/1101. Diakses pada tanggal 10 Desember 2018 pukul 10.37WIB.

Siswanto.2007.Politik Dalam Organisasi (Suatu Tinjauan Menuju Etika Berpolitik).http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=131866&val=5018&title=POLITIK%20DALAM%20ORGANISASI%20(SUATU%20TINJAUAN%20MENUJU%20ETIKA%20BERPOLITIK). Diakses pada tanggal 10 Desember 2018 pukul 10.45WIB.

Gunawan, Hendra dan Cintya Santosa, T. Elisabeth. 2012.Politik Or ganisasi Dan Dampaknya Terhadap Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, Kinerja Dan Organizational Citizenship Behavior (OCB), https://scholar.google.co.id/scholar?q=Politik+Organisasi+Dan+Dampaknya+Terhadap+Komitmen+Organisasi,+Kepuasan+Kerja,+Kinerja+Dan+Organizational+Citizenship+Behavior+(OCB),&hl=en&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart. Diakses pada tanggal 10 Desember 2018 pukul 19.45WIB.

Merry Marianti ,Maria. 2011. Kekuasaan dan Taktik Mempengaruhi Orang Lain Dalam Organisasi.http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=47611&val=3916&title=Kekuasaan%20dan%20Taktik%20Mempengaruhi%20Orang%20Lain%20Dalam%20Organisasi. Diakses pada tanggal 10 Desember 2018 pukul 20.10WIB.

Comments